Akibat Perang Dagang, AS-Tiongkok Sama-sama Rugi

Akibat Perang Dagang, AS-Tiongkok Sama-sama Rugi
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan bilateral di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 6 November 2019 | 14:46 WIB

Jenewa, Beritasatu.com- Perang dagang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok merugikan kedua ekonomi. Pada Selasa (5/11), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan dengan penurunan tajam dalam ekspor dan harga yang lebih tinggi bagi konsumen.

Dalam satu laporan baru, Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) meneliti dampak buruk kenaikan tarif yang diberlakukan oleh dua ekonomi terbesar di dunia.

UNCTAD menemukan bahwa perang dagang AS- dan Tiongkok dibiarkan jauh lebih buruk. Agensi itu memperingatkan bahwa perang dagang pada gilira berdampak seluruh ekonomi global.

"Perang dagang kalah-kalah tidak hanya merugikan pesaing utama, tetapi juga membahayakan stabilitas ekonomi global dan pertumbuhan di masa depan," kata kepala divisi perdagangan dan komoditas internasional UNCTAD Pamela Coke Hamilton.

Ekonom UNCTAD, Alessandro Nicita mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa selama fase awal konflik, sebagian besar biaya tarif diturunkan ke konsumen atau perusahaan AS.

Namun Nicita mengatakan bahwa para eksportir Tiongkok juga semakin menurunkan harga barang-barang yang dikenakan tarif yang tampaknya merupakan upaya untuk mempertahankan pangsa pasar di AS.

Analisis UNCTAD, yang hanya melihat dampak dari tarif AS, mendapati bahwa perang dagang telah menyebabkan penurunan 25 persen dalam impor AS untuk produk-produk Tiongkok yang disetujui pada paruh pertama 2019 saja.

"Tarif Amerika Serikat untuk Tiongkok secara ekonomi merugikan kedua negara," laporan itu menyimpulkan.



Sumber: Suara Pembaruan