Tiap Bulan, AS Selundupkan Minyak Suriah Senilai Rp 422 Miliar

Tiap Bulan, AS Selundupkan Minyak Suriah Senilai Rp 422 Miliar
Konvoi kendaraan lapis baja AS berpatroli di desa Ein Diwar di provinsi Hasakeh, Suriah timur laut, Senin (4/11/2019). ( Foto: AFP / Delil SOULEIMAN )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 6 November 2019 | 19:07 WIB

Moskwa, Beritasatu.com- Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut Amerika Serikat (AS) rutin menyelundupkan minyak mentah senilai US$ 30 juta (Rp 422 miliar)  per bulan dari ladang minyak Suriah yang dikuasai. Tindakan itu membuktikan AS telah melanggar sanksinya sendiri.

“Sang juara aturan hukum, AS melanggar sanksi anti-Suriah sendiri dengan menyelundupkan minyak mentah dari ladang minyak yang direbutnya dari Damaskus,” sindir juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, seperti dilaporkan RT, Jumat (1/11).

Menurut Zakharova, setiap bulan AS menyelundupkan minyak mentah senilai US$ 30 juta dari Suriah. Bahan bakar tersebut berasal dari ladang di bagian timur laut negara itu, tempat AS mempertahankan kehadiran militer setelah menarik pasukannya kembali dari perbatasan Suriah-Turki.

“Satu negara yang mengulangi pernyataan bahwa ia berpegang pada nilai-nilai demokrasi dan supremasi hukum dalam hubungan internasional, justru memompa minyak, dengan dalih memerangi ISIL,” kecam pejabat itu, menggunakan nama lama untuk kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (IS, sebelumnya) ISIS / ISIL).

Ladang minyak di provinsi Deir ez-Zor, sebelah timur Sungai Eufrat, dikuasai oleh milisi Kurdi yang didukung AS ketika mereka mendesak pasukan ISIS. Washington tidak merahasiakan fakta bahwa AS mempertahankan kehadiran militer ilegal di daerah itu untuk menolak akses Damaskus ke sumber daya alam yang berhak dimiliki di bawah hukum internasional.

AS menganggap pemerintah Suriah tidak sah dan telah menggunakan berbagai cara untuk berusaha menggulingkannya selama delapan tahun terakhir, mulai dari menjatuhkan sanksi ekonomi yang keras hingga mempersenjatai dan melatih siapa pun yang mau berperang melawan Damaskus.

“Fakta bahwa AS melarang perdagangan minyak dengan Suriah dan sekarang menyelundupkan minyak ke dalamnya sangat ironis,” kata Zakharova.

Berbicara pada Jumat, Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali niat AS untuk mempertahankan pasukan di Suriah untuk "menjaga minyak". Trump bahkan mendapatkan pujian dari Presiden Suriah Assad karena telah menjadi "Presiden Amerika yang paling transparan."



Sumber: Suara Pembaruan