Turki Mulai Deportasi Tahanan ISIS

Turki Mulai Deportasi Tahanan ISIS
Seorang tentara mengawasi warga yang berasal dari 80 negara yang telah bergabung menjadi anggota Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), sejak konflik pecah di Suriah, lima tahun terakhir. ( Foto: AFP / Bulent Kilic )
Unggul Wirawan / JAI Selasa, 12 November 2019 | 15:12 WIB

Ankara, Beritasatu.com - Pemerintah Turki mulai mendeportasi para tahahan dan warga dari berbagai negara yang bergabung menjadi milisi kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). 

Pada Senin (11/11/2019), otoritas Turki mendeportasi dua warga asing yag menjadi milisi ISIS, yakni seorang warga Jerman dan seorang warga Amerika Serikat (AS).

Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri (Jubir Kemdagri) Turki, Ismail Catakli, mengkonfirmasi kabar deportasi warga Jerman dan AS yang bergabung dengan ISIS tersebut, namun tidak menyebutkan secara spesifik identitas mereka dan ke mana mereka dikirim.

Keputusan Turki untuk memulangkan para tahanan dan milisi ISIS telah menyebabkan perselisihan dengan sekutu NATO-nya sejak melancarkan serangan di bagian utara Suriah, selama dua bulan terakhir.

Sekutu khawatir bahwa milisi ISIS dapat melarikan diri sebagai akibat dari serangan Turki, yang dimulai bulan lalu. Turki menuduh negara-negara Barat, terutama di Eropa, terlalu lambat untuk mengambil kembali warga yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk berperang atas nama kelompok ISIS.

Sejak melancarkan serangan lintas-perbatasan, Turki telah merebut wilayah dari milisi Kurdi yang telah menahan ribuan milisi ISIS dan puluhan ribu anggota keluarga mereka, termasuk warga asing yang bergabung dengan ISIS.

Pekan lalu, Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu, mengatakan Ankara akan mulai mengirim gerilyawan ISIS kembali ke negara asal mereka mulai 11 September 2019, bahkan jika negara-negara asal para pejuang telah mencabut kewarganegaraan mereka.

Setelah dua warga dari Jerman dan AS, ada 23 orang lainnya yang akan dideportasi Turki dalam beberapa hari mendatang adalah satu warga Denmark, dua warga Irlandia, sembilan warga Jerman, dan 11 warga negara Prancis.

Menurut Jubir Kemdagri Turki, Ismail Catakli, upaya untuk mengidentifikasi kewarganegaraan milisi asing yang ditangkap di Suriah telah selesai, dengan interogasi mereka selesai 90% dan negara-negara terkait telah diberitahu tentang rencana deportasi yang akan dilakukan Turki.

"Proses memulangkan para pejuang asing ke negara mereka akan kami lanjutkan dengan tekad bulat," kata Ismail Catakli seperti dikutip oleh kantor berita Anadolu, yang dikelola pemerintah.

Turki melancarkan serangannya ke Suriah timur laut terhadap milisi Kurdi YPG bulan lalu, menyusul keputusan Presiden Donald Trump untuk memindahkan pasukan AS.

YPG, elemen utama Pasukan Demokrat Suriah (SDF) dan sekutu AS melawan Negara Islam, telah menahan ribuan jihadis di penjara-penjara di timur laut Suriah dan juga mengawasi kamp-kamp tempat kerabat pejuang mencari perlindungan. Ankara memandang YPG sebagai kelompok teroris.

Ankara telah berulang kali mendesak negara-negara Eropa untuk mengambil kembali warga negara yang bergabung sebagai militan ISIS. Mereka juga menuduh YPG mengosongkan beberapa penjara ISIS.



Sumber: Suara Pembaruan