Trump Sambut Ramah Kunjungan Erdogan

Trump Sambut Ramah Kunjungan Erdogan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memberi keterangan pers bersama, di Ruang Timur Gedung Putih, Washington, Rabu (13/11/2019). ( Foto: AFP / JIM WATSON )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 14 November 2019 | 15:58 WIB

Washington, Beritastau.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyambut raman Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang berkunjung di Gedung Putih, Rabu (13/11/2019).

Donald Trump menyambut Recep Tayyip Erdogan dengan ramah seolah tak ada konflik diantara kedua negara, dan bahkan mengaku merupakan penggemar berat Erdogan.

"Saya penggemar berat Presiden (Redep Tayyip Erdogan, Red)," kata Donald Trump pada awal konferensi pers bersama dengan Erdogan, di Gedung Putih, Washington, Rabu, seperti dikutip AFP, Rabu (13/11/2019).

Donald Trump mengatakan, Turki merupakan sekutu penting AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), khususnya di kawasan Timur Tengah. "Turki seperti yang diketahui semua orang adalah sekutu di NATO dan mitra strategis Amerika Serikat," ujar Donald Trump.

Sikap ramah Donald Trump tersebut seolah mengindikasikan bahwa dia telah melupakan ketegangan dengan Recep Tayyip Erdogan Erdogan terkait invasi militer yang dilakukan Turki di wilayah perbatasan Suriah.

Padahal, Donald Trump pernah mengirimkan surat ke Erdogan yang berisi peringatan terkait invasi ke Suriah. Dalam surat tertanggal 9 Oktober 2019, Donald Trump memperingatkan Erdogan untuk jangan menjadi bodoh.

Donald Trump bahkan sempat mengancam akan menghancurkan ekonomi Turki jika mereka melakukan invasi terlalu jauh. Meski demikian, Donald Trump berkeras bahwa dia memiliki hubungan dekat dengan Erdogan.

"Kami telah berteman lama," ujar Trump.

Pengamat menilai pertemuan Donald Trump dan Recep Tayyip Erdogan merupakan kesempatan untuk mengatur ulang hubungan yang selama ini tegang karena berbagai perbedaan kebijakan politik terkait konflik di Suriah.

Operasi militer Turki melawan milisi Kurdi di perbatasan Suriah, diperkirakan akan menjadi agenda pembicaraan antara Recep Tayyip Erdogan dan Donald Trump.

Seperti diketahui, Turki menetapkan milisi Kurdi sebagai teroris, tetapi milisi itu merupakan sekutu kunci AS dalam perang melawan kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Bahkan Kongres Amerika telah mengancam akan memberlakukan sanksi luas terhadap Turki, sebagian di antaranya menargetkan Recep Tayyip Erdogan secara pribadi.



Sumber: Suara Pembaruan