Hindari Konflik, Universitas Hongkong Diliburkan Sampai Januari 2020

Hindari Konflik, Universitas Hongkong Diliburkan Sampai Januari 2020
Para pengunjuk rasa menyeret tanda halte ke jalanan di distrik Mongkok, Hong Kong, Minggu (13/10/2019). ( Foto: AFP / Mohd RASFAN )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 14 November 2019 | 16:10 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Universitas Tiongkok Hong Kong (Chinese University of Hong Kong/CUHK) mengumumkan mengakhiri jadwal akademik semester kedua tahun ini dan meliburkan mahasiswa sampai 6 Januari 2020.

Pihak CUHK menyatakan mengakhiri jadwal akademik untuk semester terakhir secara prematur karena menghindari konflik akibat meningkatnya kekerasan dalam aksi demonstrasi di Hong Kong, serta mengantisipasi gangguan transportasi publik secara berkelanjutan, dan kerusakan fasilitas kampus.

“Semua kelas yang digelar di kampus dibatalkan dan akan kembali berlaku efektif sampai awal Term 2 pada 6 Januari 2020,” bunyi  pernyataan pihak CUHK, pada Rabu (13/11/2019). 

Demonstrasi prodemokrasi Hong Kong yang berlangsung pada Selasa (12/11/2019), berakhir dengan bentrokan antara petugas dan pengunjuk rasa. Lahan perbukitan yang menjadi lokasi CUHK di New Territories yang biasanya tenang, berubah menjadi pusat bentrokan di seluruh universitas kota itu. Banyak korban terluka dalam bentrokan tersebut.

Polisi menuding CUHK telah dijadikan “pabrik senjata” untuk membuat ratusan bom molotov yang dilemparkan ke petugas saat aksi demonstrasi, pada Selasa (12/11/2019). Menurut Juru Bicara Kepolisian Hong Kong, Kepala Inspektur Tse Chun-chung,para mahasiswa menggunakan bom molotov, busur dan panah, serta lembing untuk menargetkan polisi. Mereka sudah mencapai tingkat kekerasan sangat berbahaya bahkan mematikan.

Pasca bentrokan, sekelompok mahasiswa di CUHK berusaha meninggalkan kampus pada Rabu (13/11/2019) pagi waktu setempat karena alasan keamanan, tapi harus diangkut dengan kapal karena tidak bisa pergi melewati jalanan yang terhalang.

Situasi yang memanas akibat aksi demonstrasi yang meluas ke lingkungan universitas, membuat para mahasiswa dari Tiongkok mulai meninggalkan kampus-kampus di Hong Kong, karena khawatir dengan keselamatan mereka.

Pada Rabu (13/11/2019), demonstran pro-demokrasi membangun barikade di sejumlah kampus universitas di Hong Kong, sebagai “panggung” untuk melakukan konfrontasi lebih lanjut dengan polisi.

Para demonstran, yang sebagian besar pelajar, menghabiskan sepanjang hari untuk membentengi barikade dan menimbun banyak makanan serta senjata. Kelompok demonstran lainnya memblokade jalur transportasi dan bisnis di banyak wilayah sehingga menimbulkan kekacauan di kota itu.

Biro Pendidikan Hong Kong juga memerintahkan seluruh sekolah untuk tutup pada Kamis (14/11) karena alasan transportasi dan keselamatan. Sampai pekan ini, protes secara umum dilakukan pada malam hari atau akhir pekan.



Sumber: Suara Pembaruan