Trump Ogah Nonton Sidang Terbuka Pemakzulannya

Trump Ogah Nonton Sidang Terbuka Pemakzulannya
Presiden AS Donald Trump tiba untuk berpidato di Gedung Putih, Washington Dc, AS, pada Rabu (6/11/2019). ( Foto: AFP / Jim WATSON )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 14 November 2019 | 16:21 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengaku ogah menonton siaran sidang dengar pendapat terbuka penyelidikan pemakzulan terhadap dirinya yang dilakukan DPR AS.

Pada Rabu (13/11/2019), DPR AS menggelar penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump, secara terbuka untuk publik. Penyelidikan tersebut, menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah untuk memberi kesaksian yang dapat disaksikan langsung oleh publik.

Saat ditanya wartawan apakah dia menonton siaran sidang dengar pendapat terbuka penyelidikan pemakzulan terhadapnya yang digelar DPR AS, Donald Trump mengatakan bahwa hal itu hanya lelucon yang tak perlu ditanggapi serius.

“Saya lebih suka fokus pada perdamaian di Timur Tengah, daripada menonton tipuan dan lelucon,” ujar Donald Trump, dalam jumpa pers bersama Presiden Turki, recep Tayyip Erdogan, di Gedung Putih, Rabu (13/11/2019).

Seperti diketahui, DPR AS telah melakukan pemeriksaan secara tertutup terhadap sejumlah saksi terkait penyelidikan pemakzulan Trump, sepanjang Oktober 2019 hingga awal November 2019. Hal itu, didasarkan pada informasi dari pelapor rahasia, mengenai dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh Donald Trump terhadap Ukraina.

Berbagai desakan dan protes dari Partai Republik akhirnya membuat DPR AS menggelar penyelidikan secara terbuka untuk publik. Sejumlah saksi memberi konfirmasi akan hadir dalam sidang dengar pendapat terbuka dan memberi kesaksian di hadapan publik.

Dalam sidang perdana dengar pendapat terbuka penyelidikan pemakzulan Trump, dua pejabat Departemen Luar Negeri (Deplu) AS hadir memberi kesaksian, yakni diplomat tertinggi Amerika di Ukraina, William Taylor, dan pejabat Departemen LN urusan Ukraina, George Kent.

Dalam kesaksiannya, baik Taylor maupun Kent, sama-sama membenarkan bahwa pengacara pribadi Trump, Rudolf Giuliani, telah bertindak atan nama presiden untuk urusan yang biasanya dilakukan oleh diplomat Deplu AS di Ukraina.

Taylor dan Kent juga menjelaskan bahwa Giuliani telah mendesak pihak Ukraina supaya mengadakan penyelidikan atas Hunter Biden, putra mantan wakil presiden AS, Joe Biden. Hunter Biden menjabat sebagai direktur salah satu perusahaan gas di Ukraina.

Sedangkan Joe Biden disebut-sebut menjadi saingan utama Trump sebagai calon presiden dalam pemilihan umum Tahun 2020.
Menurut Taylor, Giuliani juga diminta oleh Trump untuk menyelidiki teori yang mengatakan hawa Ukraina-lah yang melakukan campur tangan dalam pemilu presiden tahun 2016, dan bukannya Rusia.

Permintaan Trump itu dilakukan sambil ia menahan bantuan militer bagi Ukraina berjumlah 391 juta dollar, yang diperlukan negara itu untuk melawan kelompok separatis pro-Russia di bagian timur Ukraina.

“Giuliani mengatakan bahwa tanpa bantuan Amerika itu, pastilah lebih banyak warga Ukraina yang akan mati.” kata Duta Besar Taylor.

Bagian penting penyelidikan pemakzulan terhadap Donald Trump berpusat pada percakapan telpon antara presiden AS itu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelinskiy, pada Juli 2019. Dalam percakapan tersebut, Donald Trump meminta bantuan Volodymyr Zelinsky untuk memulai penyelidikan atas Joe Biden dan putranya.



Sumber: Suara Pembaruan