Klaus Iohannis Kembali Terpilih Jadi Presiden Rumania

Klaus Iohannis Kembali Terpilih Jadi Presiden Rumania
Presiden Rumania Klaus Iohannis menyapa pendukungnya ketika tiba untuk berbicara kepada media di markas besar Partai Liberal Nasional (PNL) yang berkuasa, di Bucharest, Minggu (24/11/2019). ( Foto: AFP / Daniel MIHAILESCU )
Jeanny Aipassa / WIR Senin, 25 November 2019 | 19:13 WIB

Bukares, Beritasatu.com- Klaus Iohannis dari Partai Liberal Nasional kembali terpilih menjadi Presiden Rumania, setelah memenangkan 64% suara dalam pemilihan umum (pemilu) yang berlangsung Minggu (24/11).

Iohannis yang berhaluan tengah-kanan, mengalahkan lawan terkuatnya, yakni mantan perdana menteri (PM) Rumania, Viorica Dancila, yang diusung Partai Sosial Demokrat.

Dua jajak pendapat terpisah yang diumumkan tal lama setelah penutupan pemungutan suara menunjukkan Iohannis mengumpulkan 64%-67% suara, sedangkan Dancila hanya meraih 33%-36% suara.

Menanggapi hasil penghitungan cepat tersebut, Iohannis menyampaikan pidato dengan menyebut bahwa kemenangannya merupakan kemenangan bagi Rumania sebagai negara "Eropa Modern".

"Pemenang hari ini adalah Rumania modern, Eropa Rumania, Rumania normal," kata Iohannis dalam pidato kemenangannya, di Bukares, Minggu (24/11).

Dalam pidato kemenangannya, Iohannis berjanji alan melanjutkan upaya pembetantasan korupsi dan melanjutkan reformasi peradilan yang telah diperlambat oleh pemerintahan Partai Sosial Demokrat.

Pemerintahan PM Dancila digulingkan bulan lalu, setelah kalah dalam pemilihan mosi tidak percaya di parlemen terkait dengan tuduhan korupsi, yang merupakan masalah yang telah menggerogoti Rumania sejak lama.

Di bawah pemerintahan Dancila, Rumania telah membatalkan langkah-langkah anti-korupsi, antara lain dengan menghambat reformasi peradilan dan perubahan undang-undang antikorupsi.

Tindakan Dancila tersebut dikecam keras oleh Uni Eropa dan kemudian memicu langkah pengajuan mosi tidak percaya atas pemerintahannya yang disetujui oleh parlemen Hungaria.

Sebaliknya, Iohannis yang berusia 60 tahun telah dipuji oleh sekutu Barat dan Uni Eropa karena berusaha melindungi supremasi hukum, khususnya dengan upaya menantang untuk membatasi independensi hakim.



Sumber: Suara Pembaruan