Amnesty International: 143 Orang Terbunuh dalam Demonstrasi di Iran

Amnesty International: 143 Orang Terbunuh dalam Demonstrasi di Iran
Seorang perempuan memegang bendera nasional dan foto pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, saat aksi demonstrasi pro-pemerintah, di Lapangan Enghelab, Teheran, Senin (25/11/2019). ( Foto: AFP / ATTA KENARE )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 26 November 2019 | 15:14 WIB

Teheran, Beritasatu.com - Amnesty International untuk Timur Tengah, melaporkan sebanyak 143 orang tewas dalam aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Iran yang berlangsung sejak 15 November 2019.

"Menurut laporan yang kredibel, sebanyak 143 orang tewas dalam demonstrasi ini. Kami yakin bahwa jumlah korban jiwa secara signifikan akan lebih tinggi lagi," kata Kepala Penelitian dan Advokasi Amnesty International untuk Timur Tengah, Philip Luther, seperti dikutip AFP, Senin (25/11/2019).

Menurut Philip Luther, kematian para korban hampir seluruhnya diakibatkan oleh tembakan senjata api. Satu orang dilaporkan meninggal dunia setelah menghirup gas air mata, sementara beberapa lainnya tewas karena dipukuli.

Philip Luther mengungkapkan, sebuah video yang telah diverifikasi memperlihatkan pasukan keamanan dengan sengaja menembaki para demonstran yang tidak bersenjata dari jarak dekat. Dalam beberapa kasus, para pedemo ditembak saat hendak melarikan diri.

Pekan lalu, Amnesty Internatioal untuk Timur Tengah melaporkan pasukan keamanan telah menembakkan kerumunan pengunjuk rasa dari atap rumah dan, dan bahkan dari helikopter polisi.

Rekaman media sosial menunjukkan lusinan polisi yang mengendarai sepeda motor memasuki kerumunan demonstran dan menyerang pengunjuk rasa. Sejumlah rekaman video menunjukkan polisi menembaki orang-orang dengan senjata api.

Dengan korban yang telah mencapai ratusan jiwa ini, Amnesty International untuk Timur Tengah menyerukan pada masyarakat internasional untuk bersama-sama mengutuk tindakan represif dalam mengatasi aksi demonstrasi yang berujung pertumpahan darah.

Aksi unjuk rasa menyebar di sejumlah wilayah di Iran setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Beberapa pihak mengatakan, aksi tersebut ditunggangi sekelompok orang yang mencoba merusak depot BBM dan membakarnya.

Kekerasan meletus dengan sedikitnya 100 bank dan puluhan bangunan dibakar, gangguan terburuk di Iran sejak kerusuhan terkait dugaan penipuan pemilu dihancurkan pada 2009.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengklaim, pendapatan tambahan dari kenaikan harga BBM tak akan masuk ke kantong negara. Kelebihan tersebut akan diberikan kepada 75% warga Iran yang tengah berada dalam tekanan finansial.

Pada Senin (25/11/2019), massa pendukung pemerintah menggelar demonstrasi tandingan di Lapangan Enghelab, Teheran. Pemimpin Garda Revolusi Iran, Hossein Salami, yang berbicara di aksi demonstrasi tersebut, menuding Amerika Serikat menunggangi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM.

 

 



Sumber: Suara Pembaruan