Prancis Kecam Operasi Militer Turki di Suriah

Prancis Kecam Operasi Militer Turki di Suriah
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggelar konferensi pres di Istana Elysee, di Paris pada 5 Januari 2018. ( Foto: AFP / Ludovic Marin )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 29 November 2019 | 21:00 WIB

Paris, Beritasatu.com- Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saling kecam atas serangan militer Ankara ke Suriah yang mendorong pertikaian antara anggota NATO.

Pada Kamis (28/11), Macron memperingatkan Turki bahwa pihaknya mengasingkan negara sekutunya. Seharusnya Turki tidak bergantung pada dukungan dari aliansi multinasional, tapi pada saat yang sama Turki juga melakukan operasi militer yang dikutuk secara luas terhadap Kurdi di Suriah utara sebagai "fait accompli."

Mevlut Cavusoglu dengan cepat merespons, mengecam Marcon untuk pertemuan sebelumnya dengan perwakilan Kurdi.

“Dia sudah menjadi sponsor organisasi teroris dan terus-menerus menampung mereka di Elysee. Jika dia mengatakan sekutunya adalah organisasi teroris ... benar-benar tidak ada lagi yang bisa dikatakan,” kata Cavusoglu kepada wartawan di parlemen.

Cavusoglu melanjutkan dengan lebih banyak serangan terhadap politik luar negeri Macron, dengan mengatakan bahwa presiden Prancis itu tidak dapat menjadi pemimpin Eropa dengan kondisi labil.

“Saat ini, ada kekosongan di Eropa, dia berusaha untuk menjadi pemimpinnya,” balas Cavusoglu.

Operasi Musim Semi Perdamaian Ankara, yang dimulai pada awal Oktober, menargetkan pasukan Kurdi di Suriah utara yang dianggapnya sebagai "teroris.

Meskipun Turki bersikeras operasi itu diperlukan untuk kembalinya pengungsi Suriah ke tanah air dengan aman, serangan itu telah dikutuk oleh NATO sekutu. Pasukan yang didukung Turki juga telah dituduh melakukan pelanggaran serius dan kejahatan perang selama operasi.



Sumber: Suara Pembaruan