Taiwan Layak untuk Dimasukkan dalam Sistem Perubahan Iklim Global
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Taiwan Layak untuk Dimasukkan dalam Sistem Perubahan Iklim Global

Senin, 2 Desember 2019 | 13:45 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Perubahan iklim global adalah masalah serius yang akan dihadapi dan mempengaruhi semua orang di dunia. Persoalan ini juga merupakan kewajiban setiap orang dan setiap negara untuk melakukan perbaikan dalam tindakan mereka.

Namun, karena faktor politik internasional, Taiwan tidak dapat menjadi bagian dalam kontrak The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Padahal, Taiwan memiliki kemauan yang kuta dan kemampuan nyata untuk memerangi perubahan iklim dengan negara lain di dalam kerangka UNFCCC.

Dalam tulisannya Menteri Perlindungan Lingkungan Taiwan, Chang Tzi-chin secara khusus memperkenalkan upaya Taiwan dalam memerangi perubahan iklim. Dia juga menyerukan negara-negara lain untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam UNFCCC dan menyertakan Taiwan ke dalam mekanisme pengurangan karbon global, negosiasi, dan perjanjian Paris untuk perubahan iklim serta aktivitas terkait lainnya.

Seperti dilansir dari siaran pers Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei (Taipei Economic and Trade Office/TETO), Senin (2/12/2019) Menteri Chang Tzi-chin mengatakan bahwa Taiwan telah mengesahkan Undang-Undang tentang Pengelolaan dan Pengurangan Gas Rumah Kaca. “Taiwan juga menyelesaikan program Jaringan Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim, skema upaya pengurangan gas rumah kaca, dan merumuskan Rencana Aksi Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca,” ujarnya.

Dikatakan, pada 2025, Taiwan diperkirakan akan mencapai tujuan 20 GW untuk pembangkit listrik tenaga surya dan 6,9 GW untuk pembangkit listrik tenaga angin. Taiwan juga telah memperkuat insentif keuangan untuk mendukung pengembangan industri teknologi energi hijau dan secara aktif mempromosikan “Rencana Pelaksanaan Finansial Hijau”.

Menteri Chang juga menyebutkan, satelit FORMOSAT-3 yang diluncurkan oleh Taiwan pada 2006 telah mengumpulkan lebih dari 10 juta data meteorologi dan menyediakan penelitian ilmiah gratis kepada para sarjana dari berbagai negara. Satelit FORMOSAT-7 yang diluncurkan tahun ini akan lebih efektif meningkatkan keakuratan prakiraan cuaca ekstrem dan memberikan kontribusi positif bagi prakiraan cuaca global serta perubahan iklim.

Dikatakan pula, Taiwan telah merumuskan Rencana Upaya Adaptasi Perubahan Iklim Nasional untuk membangun sistem ketahanan dalam menanggapi perubahan iklim dari delapan aspek, yakni bencana, infrasruktur kelangsungan hidup, sumber daya air, keamanan pertanahan, pesisir pantai, energi dan industri, pertanian, serta kesehatan.

Menurut Menteri Chang, sangat tidak adil bagi Taiwan untuk dikeluarkan dari organisasi internasional karena prasangka politik. Tidak hanya bertentangan dengan semangat UNFCCC yang menyerukan semua negara untuk bekerja sama secara luas dalam perubahan iklim global, hal itu juga mengabaikan Perjanjian Paris yang menekankan prinsip keadilan iklim dan menyerukan pentingnya tindakan iklim oleh negara-negara, bahkan juga bertentangan dengan tujuan Piagam PBB serta melemahkan struktur internasional dan membahayakan dunia.

“Dalam menghadapi masyarakat internasional, Taiwan adalah teman yang tulus yang bertanggung jawab dan mau berkontribusi. Taiwan berusaha untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Taiwan benar-benar layak untuk dimasukkan dalam sistem perubahan iklim global,” kata Chang.

TETO di Jakarta, John Chen mengatakan, Konferensi UNFCCC ke-25 (COP 25) akan diadakan di Spanyol pada Desember tahun ini. Karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat organisasi nonpemerintah (LSM).

Bagi Taiwan dan dunia, kata Joh Chen, kondisi itu merupakan kerugian besar untuk melawan perubahan iklim. Dia pun meminta Indonesia dan negara-negara lain untuk tidak membatasi pandangan mereka pada pertimbangan politik dan mendukung partisipasi Taiwan untuk berkontribusi secara profesional dan pragmatis di UNFCCC untuk bersama-sama memerangi perubahan iklim.

“Sesuai dengan semangat UNFCCC, Taiwan secara aktif membantu negara-negara berkembang dalam rencana mitigasi dan adaptasi jangka panjang untuk memerangi perubahan iklim serta menunjukkan tekad kami untuk berkontribusi kepada dunia. Misalnya, Taiwan membantu Belize dan Honduras dalam pengurangan bencana dan peringatan pencegahan bencana, membantu Kepulauan Marshall mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 992 ton setiap tahun,” ujarnya.

Dikatakan, Taiwan juga sangat terpengaruh oleh perubahan iklim dan telah mengembangkan banyak teknologi yang sesuai dan bersedia untuk berbagi dengan negara lain. Namun, karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat LSM dan tidak dapat menyerahkan Nationally Determined Contribution (NDC) Taiwan kepada Sekretariat UNFCCC.

Seperti negara lainnya, kata John Chen, Taiwan seharusnya memiliki peluang yang sama untuk bergabung dengan mekanisme pengurangan karbon global, menegosiasikan kegiatan terkait dengan Perjanjian Paris, dan bekerja sama untuk memberikan kontribusi usaha maksimal bagi lingkungan dan generasi mendatang.

“Perubahan cuaca telah terjadi dan telah memengaruhi negara lain. Semoga negara-negara lain tidak mengesampingkan Taiwan hanya karena masalah politik, Taiwan bersedia bekerja sama dengan anggota masyarakat internasional untuk menjaga dan melindungi dunia,” ujarnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Akibat Temuan Bom PD II, 10.000 Orang Dievakuasi

Satu bom bekas Perang Dunia II memicu evakuasi lebih dari 10.000 orang di Turin, Italia.

DUNIA | 2 Desember 2019

Kecelakaan Bus di Tunisia, 22 Orang Tewas

Sedikitnya 24 warga Tunisia tewas pada Minggu (1/12), setelah satu bus terjatuh ke jurang.

DUNIA | 2 Desember 2019

Pengunjuk Rasa Hong Kong Terima Kasih pada Trump

Beberapa orang mengenakan kaos dan topi berlogo Donald Trump.

DUNIA | 1 Desember 2019

Topan Diprediksi Bisa Ganggu SEA Games

Topan dahsyat yang melanda Pasifik dilaporkan membawa hujan lebat, angin kencang ke Filipina dan mengancam SEA Games 2019 yang tengah digelar di sana.

DUNIA | 1 Desember 2019

Singapura Perintahkan Facebook Koreksi Pesan Palsu

Singapura memerintahkan Facebook agar mempublikasikan koreksi di pesan media sosial pengguna di bawah undang-undang “berita palsu” yang baru.

DUNIA | 30 November 2019

PM Irak Akan Mundur Pascademonstrasi Berdarah

Perdana Menteri (PM) Irak Adil Abdul Mahdi akan mengajukan pengunduran diri setelah lebih dari 40 orang tewas dalam “demonstrasi berdarah”

DUNIA | 30 November 2019

Soal Peta Krimea Masuk Rusia , Ukraina Kecam Apple

Politisi dan blogger Ukraina telah menambahkan suara kecaman terhadap keputusan Apple yang memperlihatkan Krimea sebagai wilayah Rusia di petanya.

DUNIA | 30 November 2019

Polisi Hong Kong Temukan Hampir 4.000 Bom Molotov

Polisi Hong Kong menyatakan aparat menemukan hampir 4.000 bom bensin dalam dua hari saat membersihkan kampus Universitas Politeknik Hong Kong, Jumat (29/11).

DUNIA | 30 November 2019

Indonesia Dukung Perempuan Afganistan untuk Perdamaian

Indonesia mendukung peran perempuan untuk perdamaian di Afghanistan. Perempuan disadari menjadi aktor penting dalam menciptakan perdamaian

DUNIA | 30 November 2019

Ribuan Orang Padati Pasar Malam Indonesia di Wellington

Tidak kurang dari 3.500 orang tumpah ruah di Cuba Street, tempat dimana pasar malam diselenggarakan.

DUNIA | 30 November 2019


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS