Amnesti: 208 Orang Tewas dalam Demonstrasi di Iran

Amnesti: 208 Orang Tewas dalam Demonstrasi di Iran
Warga Iran berkumpul untuk memprotes situasi di Iran pada Parvis des droits de l'Homme di Paris, Prancis, Senin (2/12/2019). ( Foto: AFP / ALAIN JOCARD )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 3 Desember 2019 | 20:04 WIB

Teheran, Beritasatu.com- Amnesti Internasional melaporkan setidaknya 208 orang telah tewas di Iran selama penumpasan keamanan terhadap demonstran yang dipicu oleh kenaikan harga bensin. Dalam pernyataan lembaga swadaya masyarakat (LSM) HAM internasional itu, Senin (2/12), jumlah korban tewas berdasarkan laporan kredibel yang diterima, menyebut bahwa angka sebenarnya tampaknya lebih tinggi.

Amnesti menyatakan terjadi puluhan kematian di kota Shahriar di Provinsi Teheran. Namun, lembaga itu tidak memberikan rincian tentang jumlah orang yang tewas di negara bagian lain.

Iran membantah data dari Amnesti, namun belum memberikan jumlah pasti kematian. Aksi protes di Iran terjadi pada pertengahan November karena keputusan mendadak dari otoritas untuk melakukan skema pembatasan bensin dan memangkas subsidi sebagai bagian dari upaya untuk mengimbangi efek hukuman sanksi-sanksi AS. Langkah itu menaikkan harga bensin setidaknya 50 persen.

Iran menyebut “para preman” terkait aksi kerusuhan dari demonstrasi itu, sekaligus menggambarkan pekerjaan itu sebagai konspirasi sangat berbahaya.

Sekitar 200.000 orang turun ke jalan untuk aksi protes, sedangkan ratusan bank dan kantor-kantor pemerintah dibakar. Seorang anggota parlemen pekan ini menyebut 7.000 orang telah ditangkap oleh otoritas. Pemerintah Iran juga memadamkan internet selama hampir sepekan.

Dalam pernyataan, Amnesti mengklaim telah memverifikasi dan menganalisis rekaman video luas yang menunjukkan pasukan keamanan menembak para demonstran yang tidak bersenjata.

“Penggunaan kekuatan mematikan secara besar-besaran adalah cara untuk menghentikan protes sejak awal,” kata peneliti Iran untuk Amnesti, Raha Bahreini.

Menurut Bahreini, peningkatan penggunaan kekuatan terbukti karena adanya demonstran yang ditembak dari jarak dekat. “Para demonstran juga ditembak dari atas atap dan dalam satu kasus dari atas helikopter. Ini merupakan kemerosotan bahkan dari standar pemerintah Iran sendiri,” ujarnya.

Amnesti menyatakan telah memastikan kredibilitas laporan-laporan tersebut dengan mewawancarai sejumlah sumber di dalam maupun di luar Iran, termasuk para kerabat dari korban, jurnalis, dan aktivis HAM yang terlibat dalam pengumpulan informasi.



Sumber: Suara Pembaruan