Berpisah 20 Tahun, Ibu dan Wartawan Palestina Bertemu di Mesir

Berpisah 20 Tahun, Ibu dan Wartawan Palestina Bertemu di Mesir
Seorang wanita dan dua anak sekolah berusaha melarikan diri dari gas air mata yang ditembakkan ke arah demonstrasi antikekerasan di Tepi Barat yang diduduki, Minggu (17/11/2019). ( Foto: AFP / HAZEM BADER )
/ HS Kamis, 5 Desember 2019 | 08:50 WIB

Kairo, Beritasatu.com - Wartawan Palestina Amjad Yaghi baru berusia sembilan tahun ketika sang ibu meninggalkan Jalur Gaza ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis. Namun setelah berpisah selama 20 tahun, akhirnya mereka bertemu kembali pekan ini.

Setelah kepergiannya dari Gaza pada 1999, ibu Yaghi, Nevine Zouheir, tidak dapat kembali ke Gaza lantaran sakit tulang belakang yang diderita sehingga mengharuskannya menjalankan operasi.

Meski telah berupaya 14 kali untuk melihatnya, Yaghi tidak bisa keluar dari Gaza karena kelompok Hamas mengambil kendali wilayah tersebut pada 2007, kemudian Israel dan juga Mesir memberlakukan blokade yang mencakup pembatasan perjalanan.

Yaghi diundang untuk menghadiri konferensi di luar negeri namun dia menerima izin perjalanan hanya setelah acara tersebut selesai. Hal ini membuatnya tak memiliki alasan yang tepat untuk menyeberangi perbatasan. Hingga akhirnya Yaghi diberikan visa untuk memasuki Mesir melalui Yordania kemudian menuju apartemen ibunya di Kota Nile Delta, Benha, Senin (2/12) seperti ditulis Reuters.

Saat sang ibu melihatnya dari balkon, dia pun meneriakkan nama putranya itu. Zouheir bergegas turun untuk memeluk anaknya dan mereka saling berpegangan erat melepas rindu.

"Begitu sulit, mengetahui kamu bisa meninggal tanpa mewujudkan impianmu, tanpa melihat keluargamu yakni ibumu," kata Yaghi, yang mengalami luka akibat konflik bersenjata dengan Israel pada 2009.

"Di setiap situasi, kamu membutuhkan seorang ibu. Memang, saya berusia 29 tahun. Tetapi saya membutuhkan ibu di samping saya. Saya memiliki saudara yang semuanya hebat, tetapi seorang ibu penting di sebuah negara yang hidup di bawah pendudukan," katanya.

Terkait masalah keamanan, Israel menjaga ketat kontrol terhadap pergerakan warga Palestina di dalam dan di luar Jalur Gaza, yang dirampas oleh Israel dalam Perang Timur Tegah 1967.

Mesir hanya sesekali membuka perbatasan di kota Rafah untuk memperbolehkan orang-orang tertentu melintas, seperti pemegang paspor asing, pelajar dan mereka yang membutuhkan perawatan medis.



Sumber: ANTARA