NATO: Waspadai Ancaman Tiongkok

NATO: Waspadai Ancaman Tiongkok
Markas besar Europol di Den Haag, Belanda. ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 5 Desember 2019 | 13:27 WIB

Watford, Beritasatu.com - Setelah 70 tahun memusatkan perhatian untuk menghadapi Rusia, kini Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memperluas pandangannya kepada tantangan dari Tiongkok.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan usai pertemuan di Watford, Inggris, aliansi NATO menyebutkan Tiongkok untuk pertama kalinya, serta memakai bahasa terkuat melawan Rusia, dan setuju untuk memikirkan kembali masa depan.

“Kami menyadari pengaruh Tiongkok yang semakin besar dan kebijakan internasional menghadirkan baik kesempatan maupun tantangan yang perlu kita atasi bersama sebagai aliansi,” sebut pernyataan 29 pemimpin NATO, di Watforf, Inggris, Rabu (4/12/2019).

Amerika Serikat (AS) memimpin desakan untuk lebih fokus kepada Tiongkok dan merasa yakin penerimaan di sebagian besar Eropa karena khususnya merasakan kekhawatiran akan meningkatnya perekonomian Beijing.

Komisi Eropa pada awal 2019 menggambarkan Tiongkok sebagai “saingan sistemik” serta mendesak blok itu agar lebih tegas setelah bertahun-tahun tanpa hambatan menyambut investasi Tiongkok.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengakui ada peningkatan pemahaman di Eropa tentang tantangan yang ditimbulkan oleh kekuatan militer Tiongkok yang berkembang pesat, mencakup segala sesuatu mulai dari persenjataan hipersonik sampai kapal induk.

“Tiongkok adalah tantangan strategis bagi kami dan kita perlu maju dari itu,” kata Mark Esper.

Hal itu, lanjut Mark Esper,  bukan berarti Tiongkok adalah musuh, melainkan diperlukan kebersamaan sebagai aliansi. “Dan kita harus siap jika hal-hal berubah dengan cara kita suka mereka tidak,” ujar Mark Esper.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyatakan Tiongkok adalah pembelanja pertahanan terbesar kedua di dunia setelah AS.

“Ini bukan tentang memindahkan NATO kepada Laut China Selatan, tapi tentang mempertimbangkan fakta bahwa Tiongkok datang mendekat kepada kita,” sebut Stoltenberg merujuk aktivitas Tiongkok di Artik, Afrika, dan investasi besarnya kepada infrastruktur Eropa.

AS secara khusus menginginkan sekutu Eropa untuk melarang peralatan dari pembuat peralatan telekomunikasi Tiongkok, Huwaei, dengan alasan perangkat itu bisa dipakai Beijing untuk memata-matai.

Sebaliknya, Huawei membantah tuduhan Washington, menyebut bahwa setengah dari 65 kesepakatan komersial yang telah ditandatangani dengan pelanggan Eropa telah membangun jaringan telepon genggam 5G.



Sumber: Suara Pembaruan