Jurnalis Senior AS Dorong Penerapan Laporan Investigasi di Indonesia

Jurnalis Senior AS Dorong Penerapan Laporan Investigasi di Indonesia
Jurnalis senior asal Amerika Serikat, Lucinda Fleeson, menyampaikan pengalamannya sebagai wartawan investigasi di kantor Dewan Pers Jakarta, Kamis (5/12/2019). ( Foto: Dok SP / Natasia Christy Wahyuni )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 6 Desember 2019 | 14:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jurnalis senior Amerika Serikat (AS) sekaligus pelatih internasional untuk jurnalisme investigasi, Lucinda Fleeson, mendorong jurnalis di Indonesia untuk menerapkan pelaporan investigasi dalam karya-karya mereka.

Lucinda Fleeson menyampaikan definisi lebih luas tentang laporan investigasi, yaitu bukan hanya mengungkapkan korupsi atau kejahatan, tapi karya asli wartawan untuk melaporkan berbagai isu secara mendalam.

“Jurnalisme investigasi tidak selalu tentang mengekspos kejahatan, tapi termasuk isu-isu sosial seperti kesehatan, perempuan dan anak-anak dalam resiko, atau pembangunan. Bisa juga menjelaskan bagaimana sistem bekerja atau tidak bekerja,” kata Lucinda Fleeson dalam sesi berbagi pengalaman (sharing session), yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) di kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Lucinda Fleeson adalah direktur program beasiswa Hubert Humphrey di Philip Merrill College of Journalism Universitas Maryland. Dia menjadi reporter di Philadelphia Inquirer selama bertahun-tahun dan dianugerahi penghargaan Arthur Rouse Award untuk Kritik Pers, Beasiswa Jurnalisme McGee di Afrika Selatan, Knight International Press Fellowship, dan Beasiswa Nieman di Harvard.

Lucinda Fleeson yang pernah membawakan pelatihan jurnalisme investigasi di 26 negara, mengatakan jurnalis atau wartawan harus lebih sering memakai data dan statistik dalam karyanya.

Wartawan juga tidak boleh malas untuk mengecek akurasi dari suatu informasi sehingga tidak menyesatkan publik. Di tengah arus informasi yang sangat banyak, wartawan harus melek media untuk memilah antara informasi yang asli atau benar dan informasi palsu (hoax).

“Didik diri Anda. Kita harus ahli dalam isu yang diangkat. Bisa melihat apakah sumber atau data ini kredibel, bisa diandalkan, atau manipulatif? Harus dikonfirmasi dengan sumber lainnya,” ujar Lucinda Fleeson.

Menurut Lucinda Fleeson, jurnalisme investigasi sebenarnya merupakan laporan berita harian wartawan, tapi sifatnya lebih dalam dengan melibatkan berbagai narasumber dan data.

Salah satu ide baik untuk memulai pelaporan investigasi adalah mengutip laporan dari organisasi-organisasi internasional seperti Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) atau Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC).

“Sekarang banyak jurnalis hanya duduk diam di kantor, mewawancarai sumber lewat telepon, dan diam di depan komputer. Ayo keluar dari kantor dan buat laporan Anda lebih hidup,” ujar Lucinda Fleeson.

Lucinda Fleeson menambahkan langkah penting lainnya dalam pelaporan investigasi adalah melakukan penilaian terhadap karya tersebut. Misalnya, apakah karya yang disampaikan sudah lengkap atau masih ada “lubang” di dalamnya.

Lucinda Fleeson mencontohkan, salah satu isu yang bisa diangkat tentang gempa bumi. Dari isu itu bisa berkembang menjadi banyak aspek, antara lain pemulihan pasca gempa bumi, sejauh mana peringatan dini gempa atau tsunami sudah berfungsi, dan bagaimana mengatasi dampak dari gempa. Dia mengatakan wartawan juga bisa melakukan perbandingan penanganan dan antisipasi gempa secara internasional lewat informasi media atau publikasi lainnya.

Tenggat Waktu

Terkait tenggat waktu (deadline), dia mengatakan trik yang bisa dilakukan yaitu mempublikasikan terlebih dulu salah satu bagian dari laporan tersebut, jika keseluruhan karya belum layak atau belum selesai pengerjaannya.

Lucinda Fleeson menegaskan tantangan sesungguhnya untuk melaporkan karya investigasi bukanlah dari kantor atau narasumber, melainkan manajemen diri wartawan itu sendiri.

Menurut Lucinda Fleeson, seorang wartawan juga harus mampu merancang peta jalan (road map) atas karyanya dan menetapkan target waktunya sendiri.

“Tidak akan terjadi dimana-mana (termasuk di AS), wartawan bisa diberi dana atau waktu untuk melakukan investigasi. Harus berjuang sendiri dan melakukan lobi-lobi sendiri,” tambah Lucinda Fleeson.

Namun, Lucinda mengakui pentingnya dukungan dari perusahaan, termasuk membentuk tim dalam melakukan pelaporan investigasi. Tim harus terdiri dari wartawan senior dan wartawan junior.

 



Sumber: Suara Pembaruan