AS Tuding Iran Bunuh Lebih Dari 1.000 Demonstran

AS Tuding Iran Bunuh Lebih Dari 1.000 Demonstran
Foto yang diambil pada 17 November 2019, menunjukkan gedung kantor cabang Bank Pasargad Iran, yang hangus akibat dibakar pengunjuk rasa dalam aksi demonstrasi menentang kenaikan harga bahan bakar minyak yang diumumkan Presiden Hassan Rouhani, pada 15 Desember 2019. (Foto: AFP)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 6 Desember 2019 | 15:00 WIB

Washington, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) menuding pasukan keamanan Iran kemungkinan telah membunuh lebih dari 1.000 orang selama aksi protes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), mulai 15 November 2019.

Tudingan itu, disampaikan oleh Perwakilan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Iran, Brian Hook. Hook menyebut ribuan orang lainnya juga terluka dalam aksi kekerasan itu. Menurutnya, belasan anak-anak termasuk diantara korban tewas.

“Ketika kebenaran mulai terungkap dari Iran, tampaknya rezim itu telah bisa membunuh lebih dari 1.000 orang sejak dimulainya protes,” kata Brian Hook kepada wartawan di Kementerian Luar Negeri AS, Kamis (5/12/2019).

Brian Hook mengatakan, jumlah korban tewas belum dapat dipastikan karena Teheran memblokir informasi. Ribuan orang Iran juga terluka dan setidaknya 7.000 orang telah ditahan di penjara-penjara negara itu.

Aksi protes yang berujung kekerasan di Iran dimulai pada 15 November 2019 saat pemerintah secara tiba-tiba menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai 300 persen.

Protes tersebar di lebih dari 100 kota besar dan kecil, serta berubah menjadi politis saat demonstran dari kalangan muda dan pekerja mendesak para pemimpin agama untuk mundur.

Iran tidak memberikan data resmi korban tewas, tapi lembaga swadaya masyarakat (LSM) Amnesti Internasional, Senin (2/12), menyatakan telah mencatat kematian setidaknya 208 demonstran. Ini merupakan kekerasan paling berdarah sejak Revolusi Islam tahun 1979.

Para ulama penguasa Iran menuding “para preman” terkait para lawannya yang berada di pengasingan, serta musuh asing utama Iran seperti Amerika Serikat (AS), Israel, dan Arab Saudi.

Perjuangan rakyat Iran untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka menjadi semakin sulit sejak 2018 karena Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menarik AS dari kesepakatan nuklir Teheran dengan enam kekuatan dunia. AS juga memberlakukan kembali sanksi-sanksi yang semakin melumpuhkan perekonomian berbasis minyak Iran.



Sumber: Suara Pembaruan