Kapal Migran Tenggelam di Mauritania, 62 Tewas

Kapal Migran Tenggelam di Mauritania, 62 Tewas
Beberapa pengungsi telah dijemput dari kapal penyelamat "Open Arms" karena alasan medis di pulau Lampedusa, Italia, Laut Mediterania. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / JAI Jumat, 6 Desember 2019 | 15:36 WIB

Nouakchott, Beritasatu.com - Sebanyak 62 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas setelah satu kapal yang membawa lebih dari 150 migran terbalik lepas pantai negara di Afrika Barat, Mauritania.

Seperti dilaporkan VoA dan Al Jazeera, Kamis (5/12), 83 penumpang lainnya ditemukan selamat, setelah berenang ke pantai. “Para korban yang selamat dibantu oleh otoritas Mauritania di kota utara Nouadhibou,” kata staf Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Leonard Doyle, Kamis (5/12).

Dijelaskan, kapal yang membawa sedikitnya 150 orang itu, kehabisan bahan bakar dan terdampar selama berhari-hari ketika mendekati Mauritania sebelum akhirnya karam karena menghantam karang.

Para korban yang selamat mengatakan bahwa kapal itu meninggalkan Gambia pada 27 November. Sejumlah korban yang tidak diketahui dibawa ke rumah sakit di Nouadhibou. Menurut Leonard Doyle, kapal itu tidak layak melaut dan penuh sesak saat terbalik.

“Peristiwa ini benar-benar berbicara soal ketidakberdayaan mengatasi para penyelundup yang tentu saja telah menghasilkan uang dan menghilang bersembunyi ke hutan belantara. Itulah masalahnya di sini, orang-orang dieksploitasi, saat mereka mencari kehidupan yang lebih baik,” kata Leonard Doyle kepada Al Jazeera.

Hingga kini, tidak ada pernyataan langsung dari pihak berwenang di Gambia, satu negara kecil di Afrika Barat. Menurut IOM, banyak migran dari Gambia yang berangkat dengan harapan dapat mencapai Eropa. Sepanjang kurun waktu 2014-2018, lebih dari 35.000 migran Gambia tiba di Eropa antara 2014 dan 2018.

IOM menyatakan, tenggelam merupakan penyebab utama kematian para migran yang menyeberang dari Afrika Barat ke Eropa. Meski demikian, jalur laut yang berbahaya dari Afrika Barat ke Eropa kerap menjadi rute utama bagi para migran yang mencari pekerjaan dan kesejahteraan.

“Tenggelam adalah salah satu insiden paling mematikan sejak pertengahan 2000-an ketika Spanyol meningkatkan patroli dan lebih sedikit kapal dari Afrika yang berusaha melakukan perjalanan,” bunyi pernyataan IOM.

 



Sumber: Suara Pembaruan