Dampak Perang Dagang

November 2019, Ekspor Tiongkok Turun Jadi US$ 221,7 Miliar

November 2019, Ekspor Tiongkok Turun Jadi US$ 221,7 Miliar
Foto yang diambil pada 21 November 2019, menunjukkan peti kemas dari luar negeri, di pelabuhan internasional Qingdao, Provinsi Shandong, bagian timur Tiongkok. ( Foto: AFP )
Jeany Aipassa / JAI Senin, 9 Desember 2019 | 14:35 WIB

Beijing, Beritasatu.com -  Ekspor Tiongkok pada November 2019, turun sebesar 1,1% menjadi US$ 221,7 miliar (sekitar Rp 3.105 triliun) dibandingkan periode yang sama pada 2018.

Hal itu, menandai empat bulan berturut-turut penurunan ekspor global Tiongkok akibat dampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Ekspor Tiongkok ke AS turun sebesar 23%, tercatat menjadi penurunan ekspor terburuk sejak Februari 2019, dan merupakan penurunan ekspor Tiongkok ke AS ke-12 kali berturut-turut sepanjang 17 bulan perang dagang.

Reuters melaporkan, pada Oktober 2019, ekspor global Tiongkok turun sebesar 0,9%. Dengan demikian terdapat peningkatan sebesar 0,2% penurunan ekspor global Tiongkok pada November 2019, meskipun Tiongkok telah berupaya melakukan ekspansi.

Secara tak terduga, impor Tiongkok justru mengalami peningkatan sebesar 0,3% pada November 2019 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Hal itu, sekaligus menandai pertumbuhan impor tahun ke tahun (year on year) pertama yang dialami Tiongkok sejak April 2019.

Surplus perdagangan Tiongkok untuk November 2019, hanya mencapai US$ 38,73 miliar, jauh dari target sebesar US$ 46,30 miliar. Sebelumnya pada Oktober 2019, surplus perdagangan Tiongkok tercatat sebesar US$ 42,81 miliar pada Oktober.

Surplus perdagangan Tiongkok dengan AS untuk November 2019n mencapai US$ 24,60 miliar, berkurang dari surplus perdagangan Oktober 2019 yang sebesar US$ 26,45 miliar.

Analis menilai ekspor global Tiongkok yang menyusut pada November 2019 untuk bulan keempat berturut-turut, menggarisbawahi tekanan terus-menerus pada produsen akibat perang dagang antara Tiongkok dan AS.

Meski demikian, pertumbuhan impor mungkin merupakan tanda bahwa langkah-langkah stimulus Beijing membantu memicu permintaan.



Sumber: Suara Pembaruan