Filipina Akhiri Status Darurat Militer di Mindanao

Filipina Akhiri Status Darurat Militer di Mindanao
Warga berjalan melewati bangunan yang hancur sambil membawa barang miliknya yang masih bisa diselamatkan pasca-penyerangan pemberontakan ISIS dengan Militer Filipina di Marawi, Mindanao, 1 April 2018. Warga Marawi pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih satu tahun mengungsi dari pemberontakan IS di wilayahnya. Mereka dikawal ketat oleh Militer Filipina untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Para warga hanya bisa mengais barang miliknya dari reruntuhan rumahnya yang hancur oleh pertempuran tersebut. (Foto: AFP / Ted Aljibe)
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 12 Desember 2019 | 09:31 WIB

Manila, Beritasatu.com- Filipina akan mencabut status darurat militer di wilayah selatan Mindanao pada akhir Desember 2019. Status itu dicabut setelah mempertimbangkan iklim keamanan yang membaik dan ancaman ekstremisme yang berkurang.

Status darurat militer diberikan dua tahun lalu setelah salah satu serangan terbesar yang diilhami oleh milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) terbesar di Asia.

Hukum darurat diberlakukan pada Mei 2017 sebagai tanggapan terhadap serangan mendadak di kota Marawi oleh para milisi lokal dan asing yang loyal pada ISIS. Pemberontak menguasai kota selama lima bulan, menangkis serangan udara harian dan serangan darat sebelum para pemimpin mereka dilaporkan tewas.

Presiden Rodrigo Duterte mengindahkan nasihat dari seorang pejabat pertahanan terkemuka yang dengan suara bulat di belakang mengakhiri kekuasaan militer. Pada Selasa (10/12), juru bicara Duterte, Salvador Panelo mengatakan dia yakin bahwa perintah pengamanan dapat dipertahankan tanpa status darurat.

“Orang-orang di Mindanao diyakinkan bahwa setiap ancaman besar yang baru jadi di wilayah ini akan dihancurkan sejak awal,” kata Panelo dalam pengarahan berkala.

Langkah ini diharapkan akan disambut di seluruh Mindanao, satu wilayah berpenduduk 22 juta orang. Di Mindanao, ada ancaman terbatas pada wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim dengan sejarah kemiskinan, marginalisasi, dan pemberontakan separatis.

Meskipun telah mengklaim keberhasilan dalam membongkar jaringan-jaringan ekstremis, kini pemerintah dihadapkan dengan ancaman baru yang menyeramkan dari pemboman bunuh diri, yang sebelumnya tidak pernah terjadi di Filipina selatan.

Setidaknya ada lima percobaan bom bunuh diri yang berhasil atau sukses sejak Juli tahun lalu di kepulauan Sulu, menewaskan lebih dari 40 orang.

Kasus termasuk pemboman kembar dari satu gereja Jolo dan satu bom van yang diledakkan di pos pemeriksaan di Basilan. Kasus bom bunuh diri lain menargetkan pos-pos militer.



Sumber: Suara Pembaruan