Inggris Gelar Pemilu untuk Putuskan Brexit

Inggris Gelar Pemilu untuk Putuskan Brexit
Pemimpin Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn memberi isyarat kepada para pendukung dan aktivis setelah menyampaikan pidato pada rapat umum kampanye pemilihan umum di London timur, Rabu (11/12/2019), hari terakhir kampanye untuk pemilihan umum. ( Foto: AFP / Tolga AKMEN )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 13 Desember 2019 | 06:00 WIB

London, Beritasatu.com- Inggris menggelar pemilu, Kamis (12/12), sebagai pemilu ketiga negara itu selama kurang dari lima tahun. Tempat pemungutan suara (TPS) yang telah tersebar di 650 konstituen di seluruh Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara, mulai dibuka pukul 07.00 waktu setempat.

Dua pemilu terakhir digelar pada 2015 dan 2017. Setelah pemungutan suara ditutup pukul 22.00, proses perhitungan langsung dimulai. Sebagian besar hasil perhitungan suara akan diumumkan pada jam-jam awal, Jumat (13/12) pagi.

Pemilu kali ini akan membuka jalan untuk Brexit pada akhir Januari 2019 atau justru mendorong Inggris ke arah referendum lainnya yang bisa membalikkan keputusan untuk meninggalkan Uni Eropa (UE).

Setelah gagal mengantarkan Brexit sesuai tenggat waktu 31 Oktober 2019, Perdana Menteri (PM) Boris Johnson menyerukan pemilu pada 12 Desember 2019 untuk mematahkan apa yang disebutnya sebagai kelumpuhan politik yang menggagalkan keberangkatan Inggris dan melemahkan perekonomian.

Johnson (55) membawa slogan kampanye “Selesaikan Brexit”, sambil menjanjikan untuk mengakhiri kebuntuan dan mengeluarkan belanja lebih banyak untuk kesehatan, pendidikan, dan kepolisian.

“Kita bisa mendapatkan pemerintahan mayoritas Konservatif yang akan menyelesaikan Brexit dan melepaskan potensi Inggris. Pemilu ini adalah kesempatan kita untuk mengakhiri kemacetan, tapi hasilnya sangat tidak pasti,” ujar Johnson.

Sementara itu, lawan utamanya, pemimpin oposisi dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn (70), menjanjikan pengeluaran publik lebih tinggi, nasionalisasi layanan-layanan kunci, pajak atas orang kaya, dan referendum lain untuk Brexit. Menurut Corbyn, Konservatif adalah partai para miliuner, sedangkan Buruh mewakili banyak orang.



Sumber: Suara Pembaruan