Korban Tewas Akibat Korona Bertambah Jadi 132, Terinfeksi 6.000 Orang

Korban Tewas Akibat Korona Bertambah Jadi 132, Terinfeksi 6.000 Orang
Penanganan penderita yang terinfeksi virus korona. ( Foto: ANTARA )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 29 Januari 2020 | 10:06 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok pada Rabu (29/1/2020) mengatakan hingga Selasa (28/1/2020) jumlah korban meninggal akibat virus korona di negara itu bertambah menjadi 132 orang dengan temuan 26 kematian baru. Selain itu, ada 1.459 kasus baru yang berhasil dikonfirmasi.

"Dengan demikian, total kasus virus korona yang di Tiongkok mencapai 5.974," kata otoritas dalam sebuah pernyataan.

Badan Kesehatan juga memantau lebih dari 9.000 kasus yang diduga terinfeksi virus. Lonjakan jumlah ini terjadi ketika Beijing menegaskan kembali kepercayaannya untuk mengatasi penyakit ini.

Pemerintah Diminta Tetapkan Siaga Satu Virus Korona

Kekhawatiran penyebaran virus korona membuat maskapai mengurangi penerbangan ke Tiongkok dan perusahaan global membatasi perjalanan karyawan ke negara itu. CNBC melaporkan bahwa Gedung Putih telah mengatakan kepada maskapai penerbangan AS untuk menangguhkan semua penerbangan Tiongkok-AS karena wabah tersebut.

Lonjakan korban akibat korona di tengah upaya Pemerintah Jepang mengangkut sekitar 200 warga negaranya keluar dari kota, dan AS mengevakuasi sekitar 240 warganya melalui udara.

Penyebaran Virus Korona Terus Bertambah ke 14 Negara

Lebih dari 50 juta orang telah diisiolasi di dalam Wuhan, kota industri pusat di mana wabah pertama kali dimulai. Langkah ini upaya otoritas menghentikan infeksi yang telah menyebar ke kota-kota lain di Tiongkok.

Virus mirip flu ini juga telah menyebar ke lebih dari selusin negara. Hingga saat ini, belum ada kematian yang dikonfirmasi di luar Tiongkok. Namun konfirmasi penularan dari orang ke orang di Jerman, Vietnam, Taiwan, dan Jepang telah meningkatkan kekhawatiran.

Dikenal sebagai "2019-nCoV", virus corona dapat menyebabkan pneumonia dan infeksi pernafasan lainnya. Virus ini menyebar melalui batuk dan bersin.

"Virus itu iblis dan kita tidak bisa membiarkan iblis bersembunyi," kata televisi pemerintah mengutip pernyataan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pertemuan dengan Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di Beijing Selasa.

"Tiongkok akan memperkuat kerja sama internasional dan menyambut partisipasi WHO dalam pencegahan virus ... Tiongkok yakin akan memenangkan pertempuran melawan virus itu."

Namun jaminan Tiongkok gagal menenangkan investor. Otoritas kesehatan di dunia terus meningkatkan upaya untuk menghentikan penyebaran virus.

Sementara Amerika Serikat mengatakan tengah meningkatkan pemeriksaan kedatangan dari warga daru Tiongkok dari lima menjadi 20 bandara dan akan mempertimbangkan untuk membatasi perjalanan lebih lanjut.

"Semua pilihan untuk menangani penyebaran penyakit menular harus ada di atas meja, termasuk pembatasan perjalanan," kata Menteri Kesehatan AS Alex Azar.

Adapun Pemerintah Prancis dan Jepang, tengah mengorganisir evakuasi, sementara Hong Kong berencana menangguhkan perjalanan kereta api dan feri ke Tiongkok daratan.

United Airlines mengatakan pihaknya menangguhkan beberapa penerbangan Amerika Serikat dan Tiongkok selama seminggu mulai 1 Februari 2020 karena penurunan permintaan yang signifikan.

Kedutaan Besar AS di Beijing mengatakan sebuah pesawat carteran akan mengangkut staf konsulernya pada Rabu. Komisi Eropa mengatakan akan membantu mendanai dua pesawat untuk menerbangkan warga negara UE pulang, dengan 250 warga negara Prancis berangkat pada penerbangan pertama.



Sumber: Channel News Asia