Dua Penumpang Diamond Princess Meninggal Dunia Akibat Virus Korona

Dua Penumpang Diamond Princess Meninggal Dunia Akibat Virus Korona
Kapal pesiar Diamond Princess. ( Foto: ANTARA )
Asni Ovier / AO Kamis, 20 Februari 2020 | 15:18 WIB

Yokohama, Beritasatu.com – Dua penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang sandar di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Jepang, dinyatakan meninggal dunia setelah terinfeksi virus korona jenis baru (Covid-19). Sementara, 29 penumpang lainnya dinyatakan dalam kondisi serius.

Selain itu, dua warga negara Jepang yang bertugas di kapal itu juga dinyatakan positif terjangkit virus mematikan asal Kota Wuhan, Tiongkok, itu. Kementerian Kesehatan Jepang menyebutkan, satu dari dua warga itu adalah petugas dari Kementerian Kesehatan dan satu lagi dari Sekretariat Kabinet.

Mereka tengah menjalani tugas di atas kapal Diamond Princess tersebut. Sementara, tiga petugas lainnya sedang menjalani tes secara intensif untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi virus korona atau tidak.

Pria dan wanita yang meninggal dunia itu adalah warga Jepang. Mereka dievakuasi dari kapal pada pekan lalu dan meninggal dunia di rumah sakit. Saat ini ada sekitar 600 penumpang dan awak Diamond Princess yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Pria yang meninggal dunia diketahui memiliki mengalami asma dan sebelumnya juga tengah menjalani perawatan angina (nyeri dada). Sementara, pasien wanita yang meninggal dunia tidak memiliki gejala-gejala seperti sebelumnya. Penyebab langsung kematian perempuan itu adalah pneumonia.

"Saya berdoa untuk jiwa mereka dan turut belasungkawa yang mendalam kepada keluarga mereka yang telah meninggal. Keduanya dikirim ke fasilitas medis ketika mereka menunjukkan gejala. Saya pastikan bahwa mereka menerima perawatan sebaik mungkin," kata Menteri Kesehatan Katsunobu Kato seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (19/2/2020).

Kantor berita Kyodo melaporkan 29 orang berada dalam kondisi serius, termasuk satu yang sebelumnya dites negatif terhadap inveksi virus tersebut. Kementerian Kesehatan Jepang tidak dapat segera mengkonfirmasi laporan tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com