Mahathir Mundur tetapi Masih Menjabat, Apa yang Sebetulnya Terjadi?

Mahathir Mundur tetapi Masih Menjabat, Apa yang Sebetulnya Terjadi?
Mahathir Mohamad. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 25 Februari 2020 | 07:45 WIB

Beritasatu.com - Sejak akhir pekan lalu, perkembangan sangat dramatis terjadi di pucuk kekuasaan Malaysia.

Dimulai dengan bibit perpecahan koalisi pemerintah Pakatan Harapan hari Minggu (23/2/2020), disusul dengan langkah mengejutkan Mahathir Mohamad untuk mengajukan pengunduran diri hari berikutnya dan diterima oleh raja Malaysia.

Seharusnya, perkembangan ini dilanjutkan dengan penunjukan Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri yang baru, sesuai janji politik dan kronologi peralihan kekuasaan yang mengantar Mahathir kembali ke kursi perdana menteri pada Mei 2018.

Namun, bukan itu yang terjadi. Raja tetap meminta Mahathir sebagai pelaksana tugas perdana menteri “sampai ditunjuk pengganti yang baru”.

Mahathir sendiri tidak atau belum mengajukan Anwar sebagai penggantinya, dan sebelum ini berkeras baru akan melakukan serah terima jabatan hingga pertemuan Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), yaitu November tahun ini.

Artinya masih sekitar sembilan bulan lagi, waktu yang cukup untuk melakukan kesepakatan politik atau membentuk koalisi baru.

Dikhianati
Itulah yang dikhawatirkan Anwar. Pada Minggu, dalam video yang ditayangkan di akun Facebook, Anwar mengatakan bahwa dia telah dikhianati para anggota koalisi Pakatan Harapan.

Menurut penuturannya, ada upaya-upaya dari dalam untuk memecah belah koalisi sehingga bisa dibentuk pemerintah yang baru.

Para “pengkhianat” itu termasuk anggota Partai Pribumi Bersatu Malaysia yang didirikan Mahathir dan bahkan kelompok sempalan dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpin Anwar sendiri.

Minggu malam, para petinggi parpol dari koalisi pemerintah dan oposisi memang bertemu di Hotel Sheraton, Petaling Jaya, seperti diberitakan Channel News Asia. Selain wakil-wakil Partai Bersatu dan sempalan PKR, juga hadir pemimpin Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), dan Partai Islam se-Malaysia (PAS).

Bersatu, UMNO, dan PAS disebut-sebut akan membentuk koalisi pemerintah yang baru menyingkirkan koalisi Pakatan Harapan, dan dengan demikian juga Anwar.

Baca juga: Kabinet Pakatan Harapan Dibubarkan

Gabungan Partai Sarawak, Partai Warisan Sabah, dan Asosiasi Melayu-Tionghoa (MCA) juga hadir dalam pertemuan itu, plus 130 anggota parlemen.

Sehari setelah pertemuan, Partai Bersatu mengumumkan bahwa mereka mundur dari koalisi Pakatan Harapan dan tetap mendukung Mahathir sebagai PM.

Setelah itu, 11 anggota parlemen menyatakan hengkang dari PKR pimpinan Anwar.

Anwar tidak menuduh Mahathir sebagai dalang pertemuan itu, dan justru mengutip pengakuan perdana menteri bahwa dia tidak terlibat dalam manuver membentuk koalisi pemerintah yang baru.

Janji 2018
Gonjang-ganjing politik Malaysia saat pemilu 2018 diwarnai oleh dugaan skandal “mega korupsi” oleh Perdana Menteri Najib Razak dan memaksa Mahathir “turun gunung” untuk ikut pemilihan.

Dia sudah meninggalkan UMNO karena jengah dengan skandal korupsi di dalam partai itu dan mendirikan Bersatu.

Demi menyingkirkan Najib, Mahathir merangkul Anwar yang ketika itu masih di dalam penjara.

Mereka berdua lalu berjuang di Pakatan Harapan dan berhasil mengalahkan musuh bersama, yaitu UMNO dan Najib, pada Mei 2018. Sebagai pemimpin koalisi, Mahathir didapuk menjadi perdana menteri.

Di hari pertamanya menjabat, Mahathir memohon raja untuk memberikan amnesti kepada Anwar dan dikabulkan, sehingga kawan - lalu musuh - lalu kawannya lagi itu bebas pada 16 Mei 2018.

Saat itulah dia berjanji tidak akan menuntaskan masa jabatan karena usia, dan akan menyerahkan kursi kepada mitra koalisi, tak lain adalah Anwar.

Mahathir mengundurkan diri kemarin, tetapi faktanya dia masih bersedia menjadi perdana menteri interim dan Anwar seperti terkucil di pojokan ketika para petinggi koalisi menggelar pertemuan dengan kubu seberang.

Mahathir dan Anwar, Kawan atau Lawan?
Rakyat Malaysia harus menerima takdir bahwa dalam empat dekade terakhir, panggung politik negara itu didominasi hanya oleh dua pria -- satu pemeran utama dan satu pemeran pendamping.

Mahathir yang telah menjadi perdana menteri selama 22 tahun kembali ke puncak kekuasaan setelah 15 tahun pensiun.

Anwar adalah calon kuat perdana menteri atau “prime minister in waiting” di akhir dekade 1990an dan saat ini status itu kembali dia sandang.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa meskipun Anwar masih lantang bicara dan masih banyak yang mendengarnya, dia tetap menjadi “pemeran pembantu” di bawah bayang-bayang Mahathir.

Anwar sudah berpolitik ketika masih mahasiswa dengan memimpin organisasi kepemudaan Islam. Pada 1982 dia bergabung dengan UMNO tak lama setelah Mahathir menjadi perdana menteri untuk pertama kalinya. Karir Anwar langsung melejit dengan menduduki sejumlah jabatan menteri.

Puncak karirnya terjadi pada 1993, ketika dia ditunjuk sebagai wakil perdana menteri dan dianggap sebagai calon kuat pengganti Mahathir.

Namun, hubungan dua pria itu menjadi panas terkait sejumlah isu seperti korupsi dan kesulitan ekonomi Malaysia.

Pada puncak krisis finansial 1998, hubungan buruk dua orang itu memuncak karena kritikan Anwar terhadap cara perdana menteri menangani krisis. Anwar pun dipecat dan memicu demonstrasi dari pendukungnya.

Ketika itu Anwar memimpin gerakan “reformasi” seperti yang tengah terjadi di Indonesia.

Setahun berikutnya, Anwar divonis bersalah atas korupsi dan dihukum enam tahun penjara. Pada 2000, dia divonis bersalah melakukan sodomi pada sopirnya dan dihukum sembilan tahun penjara, yang dia jalani bersamaan dengan vonis sebelumnya.

Anwar dan para pendukungnya menilai vonis tersebut sangat politis. Homoseksualitas adalah sebuah kejahatan menurut hukum di Malaysia, tetapi sangat jarang ada pelaku yang divonis bersalah dan dipenjara.

Pada 2003, Mahathir mundur dari jabatan PM setelah 22 tahun berkuasa.

Lalu pada akhir 2004, Mahkamah Agung Malaysia membatalkan vonis sodomi, sehingga Anwar bebas.

Lepas dari penjara, Anwar muncul sebagai tokoh oposisi yang disegani. Dalam pemilu 2008, kelompok oposisi yang dipimpinnya merebut sepertiga kursi parlemen dan menguasai lima negara bagian.

Namun, lagi-lagi dia dijerat dengan kasus sodomi yang diduga dilakukan pada ajudannya, pada tahun gemilang kubu oposisi tersebut.

Pada Januari 2012, Pengadilan Tinggi membebaskan Anwar dari tuduhan itu karena dianggap kurang bukti.

Seperti siaran ulang, dia kembali memimpin oposisi di pemilu 2013 untuk menciptakan hasil sengit melawan koalisi penguasa, Barisan Nasional. Kubu oposisi yang terdiri dari tiga partai memang tidak menang, tetapi Barisan Nasional mengalami penurunan suara paling buruk dalam sejarah Malaysia.

Siaran ulang berlanjut karena pada 2014 pengadilan “membatalkan putusan MA tahun 2004 yang membatalkan vonis sodomi” sehingga dia kembali masuk penjara.

Sepertinya memang ada yang berniat untuk benar-benar menghabisi karir politiknya dengan repetisi yang berlanjut ini. Perlu dicatat bahwa pada 2014 itu dia menjadi calon anggota legislatif dan di atas kertas sangat berpeluang menang di negara bagiannya.

Di luar penjara, situasi politik sangat panas. Mahathir memutuskan keluar dari UMNO dan mendirikan Partai Bersatu, sembari menuntut Najib mundur karena skandal korupsi.

Menjelang pemilu 2018, Mahathir yang sudah “muak” atas kepemimpinan Najib bergabung ke kubu oposisi Pakatan Harapan pimpinan Anwar.

Manuvernya ini membuahkan hasil karena oposisi menang pemilu 9 Mei 2018 dan memuluskan langkah Mahathir untuk kembali menjadi perdana menteri.

Kemenangan Mahathir sebagian karena janjinya untuk membebaskan Anwar -- yang masih sangat populer di kalangan oposisi. Dia juga mengindikasikan untuk menyerahkan jabatan kepada Anwar setelah dua tahun menjabat.

Niat baik Mahathir dibuktikan dengan menunjuk Wan Azizah, istri Anwar, sebagai wanita pertama yang menduduki jabatan wakil perdana menteri Malaysia. Azizah juga menjabat sebagai menteri urusan perempuan, keluarga dan masyarakat.

Fakta Penting
Dari perkembangan ini, ada sejumlah fakta penting yang bisa disimpulkan.

1. Koalisi Pakatan Harapan sudah bubar.
2. Duet kerja sama Mahathir-Anwar sudah tidak relevan karena platform sudah bubar.
3. Pembubaran koalisi dimotori oleh Partai Bersatu yang didirikan Mahathir.
4. Partai Bersatu tetap mendukung Mahathir, dengan kata lain menolak Anwar sebagai perdana menteri.
5. Dengan hilangnya Pakatan Harapan, terbuka pintu bagi pembentukan koalisi pemerintah baru dan masuknya partai lain, termasuk UMNO.
6. Mahathir akan tetap memimpin Malaysia hingga setidaknya November tahun ini.

Fakta-fakta ini sangat bertentangan dengan motivasi dan strategi politik yang membawa Mahathir kembali menjadi perdana menteri.

Dengan demikian, prospek Anwar menjadi perdana menteri masih sangat kecil saat ini. Statusnya akan tetap sama, atau mungkin perlu ditambahkan: “prime minister in waiting -- for life.”



Sumber: Reuters, BBC, CNA