Senin, Parlemen Malaysia Pilih PM Baru

Senin, Parlemen Malaysia Pilih PM Baru
Perdana Menteri Malaysia ke-7 Tun Dr Mahathir Mohamad (kedua kanan) didampingi itri tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail (kedua kiri) memberikan keterangan kepada pers di Yayasan Al-Bukhari, Kuala Lumpur, Malaysia, 11 Mei 2018. ( Foto: Antara / Rafiuddin Abdul Rahman )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 28 Februari 2020 | 02:10 WIB

Beritasatu.com - Parlemen Malaysia menjadwalkan sidang sangat penting Senin (2/3/2020) nanti dengan agenda memilih perdana menteri baru menggantikan Mahathir Mohamad yang telah mengundurkan diri.

Rencana sidang ini dibuat setelah raja Malaysia tidak menunjuk kandidat baru dan justru meminta Mahathir menjadi pelaksana tugas perdana menteri hingga muncul penggantinya.

Jika tidak ada kandidat yang mendapat suara mayoritas dari 222 anggota parlemen, maka terpaksa dilakukan pemilu susulan, kata Mahathir, Kamis (27/2/2020).

Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai terbesar di kubu oposisi, sudah meminta para petingginya untuk bersiap menghadapi pemilu, sebuah indikasi bahwa para anggota parlemen dari partai tersebut mungkin tidak akan memberikan suara jika tidak ada kandidat dari pihak mereka.

Tenggat hari Senin memperpanjang kisruh politik di Malaysia, karena mereka yang berambisi menjadi perdana menteri akan bergerilya mencari dukungan dari berbagai parpol dan koalisi yang ada demi perolehan suara.

Kisruh politik Malaysia sekarang mempertaruhkan jalannya roda perekonomian yang tumbuh paling lambat dalam satu dekade terakhir. Mahathir telah mengumumkan paket stimulus senilai 20 miliar ringgit untuk menangkal dampak wabah global virus korona.

Mahathir, 94, kembali menemui raja hari Kamis, empat hari setelah dia mundur karena gonjang-ganjing di kubu koalisi Pakatan Harapan. Fungsi raja dalam pemerintahan Malaysia yang mengadopsi sistem Inggris sifatnya hanya seremonial, tetapi kali ini raja ikut terseret lebih dalam untuk membantu mencarikan solusi dalam krisis politik sekarang.

“Beliau tidak bisa menemukan seseorang yang punya dukungan mayoritas mutlak,” kata Mahathir mengutip pernyataan raja, yang selama dua hari telah menemui para anggota parlemen untuk mencari kandidat yang memiliki dukungan terbanyak.

“Dan karena beliau tidak bisa mendapatkannya, beliau menitahkan bahwa forum yang tepat adalah di Dewan Rakyat,” ujarnya.

“Namun, jika Dewan Rakyat juga gagal memilih seseorang dengan dukungan mayoritas, maka kita harus menjalani pemilu susulan,” kata Mahathir.

Baca juga: Mahathir Mundur tetapi Masih Menjabat, Apa yang Sebetulnya Terjadi?

Pemilu terakhir Malaysia digelar pada Mei 2018, ketika Mahathir merangkul musuh lamanya Anwar Ibrahim untuk memimpin koalisi Pakatan Harapan meraih kemenangan mengejutkan dan meyingkirkan koalisi lawan yang sudah berkuasa selama enam dekade.

Koalisi Pakatan Harapan berjuang mewujudkan era baru yang berlandaskan transparansi dan tata kelola pemerintahan yang baik, selain fokus untuk melakukan proses hukum terhadap mantan perdana menteri Najib Razak yang dituduh mengkorupsi dana negara.

Namun, persaingan internal antara Mahathir dan Anwar kerap mengemuka. Mahathir berulangkali menolak menyebutkan tanggal yang pasti untuk menyerahkan jabatannya kepada Anwar seperti kesepakatan yang dibuat sebelum pemilu. Tensi di dalam koalisi pun meningkat dan memuncak dengan bubarnya Pakatan Harapan Senin lalu.

Mahathir memang mundur, tetapi tetap menjabat perdana menteri interim. Hari Rabu, dia mengatakan akan kembali ke kursi perdana menteri jika mendapat cukup dukungan di parlemen dan berjanji akan “membentuk pemerintahan yang tidak berpihak kepada partai mana pun”.

Baca juga: Kabinet Pakatan Harapan Dibubarkan

Mewujudkan “pemerintahan bersatu” akan sangat sulit karena munculnya berbagai aliansi parpol yang terpisahkan oleh perbedaan ras dan agama.

Koalisi Pakatan Harapan, yang telah ditinggalkan Mahathir dan partai Bersatu yang didirikannya, masih menguasai 92 kursi parlemen atau 41 persen dan mendukung Anwar sebagai perdana menteri baru. Mahathir diperkirakan akan didukung oleh 46 anggota parlemen atau 21 persen.

Mahathir menegaskan bahwa dia tidak bersedia merangkul UMNO, partai yang dulu dia pimpin dan kemudian ditinggalkan menjelang pemilu 2018. Dia mengatakan tidak akan menolak dukungan dari anggota parlemen UMNO secara pribadi, tetapi menolak bekerja sama dengan partai tersebut.



Sumber: Bloomberg