Dampak Lockdown, Pekerja Migran di Hubei Hidup dalam Ketakutan Utang yang Meningkat
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Dampak Lockdown, Pekerja Migran di Hubei Hidup dalam Ketakutan Utang yang Meningkat

Rabu, 18 Maret 2020 | 23:10 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Hong Kong, Beritasatu.com - Terperangkap saat status lockdown (isolasi) dan tidak dapat kembali bekerja, Cao Xier adalah salah satu dari jutaan orang yang berjuang tanpa pendapatan dan utang yang semakin besar di daerah asal virus corona jenis baru (Covid-19) di Tiongkok.

Seperti kebanyakan pekerja migran pedesaan dari Provinsi Hubei, Tiongkok, Cao dan keluarganya kembali ke kota asal mereka untuk liburan Tahun Baru Imlek pada akhir Januari lalu. Namun, dia harus terjebak di kota asalnya itu dan tak bisa kembali ke tempat kerja setelah pemerintah melakukan langkah-langkah isolasi untuk mengendalikan virus.

“Kami belum pernah mengalami kepanikan seperti ini sebelumnya,” katanya dari Caodian, salah satu desa miskin di Hubei.

“Adik ipar saya mengatakan bahwa pejabat tidak membiarkan kami kembali (bekerja) pada awal April. Ia akan berusaha untuk keluar (dari desa), karena tidak memiliki pendapatan untuk memberi makan keluarga atau membayar pinjaman, itu sama mengerikannya dengan terinfeksi virus,” ujar Cao seperti dikutip South China Morning Post, Rabu (18/3/2020).

Virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 80.000 orang dan menewaskan lebih dari 3.200 orang di Tiongkok, telah sangat mengganggu negara itu sejak akhir Januari lalu. Tiongkok terputus dengan seluruh dunia, yang membuat perekonomian mereka terjun bebas dalam dua bulan pertama tahun ini.

Meski toko-toko dan pabrik-pabrik di seluruh negeri telah mulai dibuka kembali, namun hampir 60 juta orang di lebih dari selusin kota di Hubei masih dalam status lockdown.

Harapan banyak orang, termasuk Cao, sempat terbuka ketika Presiden Tiongkok, Xi Jinping mengunjungi Kota Wuhan, pusat wabah, pada pekan lalu. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa pekerja migran akan dapat kembali bekerja pada pabrik-pabrik yang ada di pantai timur Tiongkok dalam waktu dekat.

“Kami sangat marah dengan keputusan pihak berwenang,” kata pengemudi truk, Zhang Liang, 36 tahun, dari Kota Jingshan di Hubei. Dia kini terlilit utang setelah membeli truk untuk bisnisnya.

“Kami semua sehat, tetapi terjebak di rumah. Pemerintah telah menutup jalan tetapi tidak menawarkan dukungan atau kompensasi atas kerugian kami,” ujarnya.

Sementara, bagi Cao, yang bekerja berjam-jam sebagai pengemudi aplikasi transportasi di Dongguan, Provinsi Guangdong, 1.200 km dari Wuhan, tekanan finansial mulai muncul. Tanpa penghasilan, ia terpaksa menggunakan kartu kreditnya untuk membayar cicilan bulanan sebesar 3.000 yuan (US$ 428). Uang itu untuk membayar mobil yang dibelinya pada Oktober 2018.

Kisah serupa dialami saudara perempuan Cao, yang bersama suaminya juga tidak dapat kembali ke pekerjaan mereka di Dongguan. Pasangan itu, yang memiliki apartemen tiga kamar tidur di Suizhou dan membiayai dua anak perempuan dan tiga orang tua, harus meminjam 5.000 yuan (sekitar US$ 713) dari Cao untuk membayar hipotek bulan depan sekitar 6.000 yuan.

“Secara umum, semua anak muda di desa kami terlilit utang, baik untuk flat, kendaraan, atau cicilan sebuah telepon genggam,” kata Cao, yang berusia 30-an tahun.

Tidak seperti generasi pertama kaum migran yang berbondong-bondong ke kota untuk bekerja pada sekitar 1990-an, kalangan muda pedesaan sekarang tidak lagi bercita-cita untuk membangun rumah di desa atau kota kecil tempat mereka dilahirkan. Mereka meminjam uang untuk membeli properti di kota dan berharap dapat memberikan keluarga kesempatan hidup yang lebih baik.

Di seluruh Tiongkok, rasio utang keluarga terhadap produk domestik bruto, atau rasio leverage rumah tangga, terus meningkat dari 17,9% pada akhir 2008 menjadi 52,1% pada 2018 dan 55,8% tahun lalu.

Dekan BNU-HKBU United International College, Simon Zhao mengatakan, epidemi Covid-19 merupakan risiko yang sangat besar bagi pekerja migran, yang membeli properti dengan kredit. “Oleh karena itu, melanjutkan pekerjaan menjadi sangat penting, karena sejumlah besar penduduk pedesaan meminjam uang untuk membeli rumah, bahkan ketika mereka benar-benar tidak mampu untuk membelinya,” kata Zhao.

Dikatakan, jika epidemi Covid-19 domestik dan global terus berdampak pada pasar kerja Tiongkok, maka akan ada risiko besar bagi pasar properti domestik.

Sebanyak 280 juta pekerja migran Tiongkok bekerja di pabrik-pabrik selama 11 bulan setiap tahun. Mereka biasanya mengambil cuti dua hingga tiga minggu di kampung halaman untuk ikut merayakan Tahun Baru Imlek.

Mereka hanya libur satu hari dalam sepekan dan kebanyakan lembur kerja selama dua hingga empat jam setiap hari selama musim panas. Langkah itu diambil untuk meningkatkan pendapatan.

Kini, dengan begitu banyak orang di Provinsi Hubei yang belum bisa kembali bekerja, orang-orang mulai menjadi stres.

“Dalam dua bulan terakhir, setiap kabupaten, setiap kota, dan setiap desa di Hubei telah sepi dan sunyi, dengan semua jalan diblokir dan dijaga pada siang dan malam,” kata Gao Minghui, 28 tahun, yang tinggal di daerah Nanzhang di provinsi tersebut.

“Kita semua hidup dalam ketakutan. Saya pasti akan menganggur ketika kembali ke Shenzhen, karena salon kecantikan tempat saya bekerja sudah tutup. Sementara, saya masih harus membayar sewa sebesar 3.800 yuan (US$ 542) setiap bulan untuk flat saya,” ujarnya.

Menurut Gao, warga di desanya juga semakin putus asa. “Ada grup WeChat yang terdiri lebih dari 400 orang, semuanya dari desa saya. Setiap hari orang-orang muda mengatakan bahwa mereka ingin bekerja. Mereka juga mengatakan semua babi, bebek, dan ayam (di desa) sudah dimakan,” ujarnya.

“Kami sudah kehabisan uang dan bangkrut," ujar Gao.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Krisis Kemanusiaan Mengancam, IMF Isyaratkan Bantuan ke Afghanistan

IMF pada Kamis (16/9/2021) menyerukan komunitas internasional harus mengambil tindakan segera untuk mencegah krisis kemanusiaan di Afghanistan.

DUNIA | 16 September 2021

AS Umumkan Aliansi Baru dengan Australia dan Inggris untuk Perkuat Militer

AS mengumumkan aliansi baru dengan Australia dan Inggris untuk memperkuat kemampuan militer dalam menghadapi Tiongkok yang sedang bangkit.

DUNIA | 16 September 2021

Survei Perubahan Iklim Asia Tenggara, Responden Indonesia Sebut Banjir Ancaman Paling Serius

Hasil survei memperlihatkan responden dari Indonesia meyakini, banjir merupakan ancaman paling serius dari perubahan iklim.

DUNIA | 16 September 2021

Prancis Merasa Dikhianati oleh Australia

Australia akan menjadi negara ketujuh di dunia yang mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir.

DUNIA | 16 September 2021

UNICEF Minta Sekolah di Negara Pandemi Covid-19 Dibuka Kembali

UNICEF mendesak otoritas pendidikan agar segera mungkin membuka kembali sekolah-sekolah di negara pandemi Covid-19.

DUNIA | 16 September 2021

Bantu Perangi Covid-19, Indonesia Sumbang Alat Kesehatan ke Myanmar

Indonesia menyumbangkan peralatan kesehatan untuk membantu rakyat Myanmar memerangi Covid-19.

DUNIA | 16 September 2021

INH Salurkan Bantuan untuk Pembangunan Perumahan Guru di Yerusalem

INH menyalurkan bantuan dana untuk program pembangunan perumahan para asatidz atau guru di kawasan distrik Sur Baher, Yerussalem, Palestina.

DUNIA | 16 September 2021

Diminta Kurangi Emisi Karbon, Australia Malah Perpanjang Proyek Batubara

Langkah ini menggandakan komitmen negara tersebut untuk terus mengekstraksi bahan bakar fosil, meskipun ada tekanan untuk mengurangi emisi karbon.

DUNIA | 16 September 2021

Malaysia Buka Kembali Pulau Pariwisata Langkawi

Wisatawan kembali datang ke Pulau Langkawi, Malaysia, pada Kamis (16/9/2021).

DUNIA | 16 September 2021

1 Miliar Lebih Orang di Tiongkok Telah Divaksin Penuh

Tiongkok pada Kamis menyatakan, 1 miliar lebih warga di negara itu telah divaksinasi Covid-19 sepenuhnya, atau sekitar 71 persen dari populasinya.

DUNIA | 16 September 2021


TAG POPULER

# KKB


# Trending Topic


# Update Covid-19


# Vaksin Nusantara


# Erick Thohir



TERKINI
Pakar Sarankan Pencari Kerja Manfaatkan Fasilitas Management Training

Pakar Sarankan Pencari Kerja Manfaatkan Fasilitas Management Training

EKONOMI | 9 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings