Para Relawan Vaksin Covid-19 di Wuhan Menceritakan Pengalamannya

Para Relawan Vaksin Covid-19 di Wuhan Menceritakan Pengalamannya
Ilustrasi Vaksin Covid-19 ( Foto: AFP )
Asni Ovier / AO Minggu, 22 Maret 2020 | 09:04 WIB

Beijing, Beritasatu.com – Mereka berisiko mengalami diare, suhu badan tinggi, dan rasa kekhawatiran berlebih. Meski demikian, 108 orang dari Wuhan, Tiongkok, dengan bangga mengatakan bahwa minggu ini mereka menjadi orang-orang yang pertama di negara itu disuntik dengan vaksin, yang mungkin saja bisa menangkal penyebaran virus corona jenis baru (Covid-19).

Uji coba berlangsung di kota yang terletak di tengah Tiongkok itu sejak Kamis (19/3/2020). Tiga hari sebelumnya, CanSino Biologics, perusahaan farmasi yang mengembangkan produk vaksin bekerja sama dengan militer Tiongkok, diberi lampu hijau oleh Beijing.

Dikutip dari South China Morning Post, Minggu (22/3/2020), para sukarelawan, yang berusia antara 18 hingga 60 tahun itu dalam kondisi sehat. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yang terdiri atas 36 orang dan kemudian diberikan dosis vaksin rendah, sedang, dan tinggi.

Menurut Science Daily, seorang dari Akademi Teknik Tiongkok, Wang Junzhi mengatakan, setelah menerima suntikan, para peserta harus menjalani karantina selama 14 hari di bawah pengawasan medis yang ketat. Namun, beberapa sukarelawan menceritakan pengalaman mereka di media sosial.

“Saya agak naif dan sedikit takut ketika mendaftar (sebagai relawan),” kata seorang wanita muda dengan julukan Xiao Mi. Dia termasuk dalam kelompok dosis rendah.

"Hanya butuh satu hari dari saat saya diberitahu untuk mendapatkan suntikan," katanya di akun Weibo, platform media sosial seperti Twitter di Tiongkok.

Xiao mengatakan, dia membaca tentang kemungkinan adanya efek samping, seperti reaksi alergi dan rasa ketakutan setelah menerima suntikan. Tetapi, kata dia, itu mungkin yang terburuk.

"Dua orang dari kelompok kami melihat suhu tubuh mereka naik hingga 38 derajat celcius. Beberapa lainnya mengalami diare," katanya. Namun, menurut Xiao, semua efek samping itu berlalu dengan sangat cepat.

Yang lebih penting, kata Xiao, meskipun dia khawatir, dengan ikut serta dalam uji coba itu dia merasa telah melakukan sesuatu untuk masyarakat.

"Saya merasa saya bisa menanggung akibatnya. Saya ingin mengesampingkan kepentingan sederhana orang normal. Kita harus berterima kasih kepada semua yang telah berdiri di depan orang normal,” ujarnya.

Xiao juga mengkonfirmasi laporan sebelumnya yang menyebutkan bahwa orang pertama yang menerima suntikan vaksin adalah Chen Wei, seorang jenderal besar dan ilmuwan militer Tiongkok. Dia juga juga memimpin uji coba itu.

Relawan lainnya adalah Li Ming. Baru-baru ini istri Li, Wang Feng pulih dari Covid-19.

"Dari awal mendapatkan gejala sampai sekarang, saya telah mengalami banyak kesulitan dalam mendapatkan diagnosis dan perawatan," kata Wang seperti dikutip dalam laporan Science Daily.

"Suami saya telah menemani dan dia sepenuhnya memahami betapa sulitnya bagi seorang pasien," ujar Li.

Tiongkok dan Amerika Serikat saat ini berlomba-lomba mengembangkan vaksin bagi Covid-19. Tiongkok bahkan telah memerintahkan militer mereka untuk berkosentrasi penuh terhadap upaya pengembangan vaksin tersebut.

Wang Junzhi mengatakan bahwa program pengembangan tampaknya berjalan dengan baik. Sebagian besar tim peneliti dapat menyelesaikan studi praklinis mereka pada bulan depan dan melanjutkan ke uji klinis segera setelahnya.

Namun, Roy Hall, seorang profesor virologi di Universitas Queensland, Australia, mengatakan, meski uji coba vaksin bisa dilacak dengan cepat, namun masih perlu waktu sebelum vaksin siap untuk diproduksi secara massal.

“Ini mungkin tersedia dalam enam hingga sembilan bulan sejak memulai uji klinis. Itu berarti vaksin akan tersedia dalam waktu satu tahun setelah ditemukan patogen. Itu akan menjadi pencapaian yang luar biasa,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com