Donald Trump Kembali Remehkan Ancaman Covid-19

Donald Trump Kembali Remehkan Ancaman Covid-19
Presiden Donald Trump berpidato di Kongres Amerika, Rabu 5 Februari 2020. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / JAS Selasa, 24 Maret 2020 | 17:11 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kembali meremehkan ancaman penyebaran eksponensial dari virus corona atau Covid-19 di negara itu. Donald Trump membandingkan peningkatan kasus kematian akibat Covid-19 dengan jumlah warga AS yang meninggal dalam kecelakaan mobil dan flu musiman.

Terkait hal itu, Donald Trump mendesak bisnis agar kembali dibuka, lebih cepat daripada nanti, sementara pemerintah bekerja melawan wabah Covid-19.

“Pada titik tertentu kita akan membuka negara kita dan itu akan segera terjadi,” kata Donald Trump dalam jumpa pers Senin (23/3) sore di Gedung Putih.

Saat dikonfirmasi maksud dari “secepatnya”, Trump mengatakan hitungannya bukan bulan.

“Kita memiliki musim flu yang sangat aktif, lebih aktif daripada kebanyakan, sepertinya menuju 50.000 atau lebih kematian” kata Trump sebelum akhirnya dia mulai menganggap serius Covid-19.

Trump lalu membandingkan wabah Covid-19 dengan pembunuh ribuan warga Amerika lainnya, yaitu kecelakaan mobil. Menurutnya, kematian akibat kecelakaan mobil jauh lebih besar dibandingkan angka apa pun yang dibicarakan. Sekitar 39.000 orang meninggal dalam kecelakaan kendaraan di AS setiap tahun.

“Itu bukan berarti kita ingin sampaikan ke semua orang agar tidak lagi menyetir mobil,” ujar Donald Trump.

Donald Trump tampaknya ingin menekankan bahwa sejauh angka kematian saat ini, Covid-19 bukanlah pembunuh yang menakutkan. Dengan logika itu, ujar Donald Trump, tidak masuk akal untuk menutup secara efektif seluruh wilayah ekonomi.

“Kita harus melakukan hal-hal untuk membuat negara kita terbuka,” kata Donald Trump.

Dia menambahkan beberapa pekan terakhir adalah periode luar biasa untuk belajar. Namun, tidak menyebut apa yang dipelajari dan oleh siapa.

Perkembangan Covid-19 di AS terus mengkhawatirkan dengan jumlah kasus positif lebih dari 43.000 dan terdapat lebih dari 530 kematian. Namun, pandangan Trump terkait Covid-19 tampaknya terombang-ambing karena kerugian ekonomi akibat langkah lockdown dinilai jauh lebih besar daripada membiarkan begitu saja.

Delapan hari setelah Pusat untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengeluarkan 15 hari panduan yang sangat membatasi aktivitas ekonomi dan sosial, Donald Trump tampaknya mulai semakin gelisah. Ditambah, pasar saham terus merosot dan Kongres belum membantu dengan paket ekonomi untuk memulihkan kepercayaan.



Sumber: CNBC