WHO: AS Jadi Pusat Baru Pandemi Corona

WHO: AS Jadi Pusat Baru Pandemi Corona
Juru Bicara Badan Kesehatan Dunia (WHO), Margaret Harris. ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 25 Maret 2020 | 17:42 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan Amerika Serikat (AS) dapat menjadi pusat baru pandemi virus corona (Covid-19) setelah Tiongkok dan Italia.

Peringatan itu, disampaikan Juru Bicara WHO, Margaret Harris, di Jenewa, Swiss, Selasa (24/3/2020), seiring dengan pertambahan signifikan kasus infeksi corona di AS dalam tiga hari terakhir. Saat ini, kasus corona positif di AS telah mencapai lebih dari 53.000 orang dan 690 diantaranya meninggal.

“Akselerasi yang sangat besar dalam pertambahan kasus (corona, Red) dapat membuat Amerika Serikat menjadi pusat baru pandemi virus corona. Dalam beberapa hari terakhir, wabah ini semakin meningkat intensitasnya di Amerika Serikat,” kata Margaret Harris.

Menurut Margaret Harris, WHO mencatat 85% kasus positif corona baru yang terkonfirmasi pada Senin (23/3/2020), berada di AS dan Eropa. Dari jumlah tersebut, 40% berada di AS, dengan jumlah kematian yang juga meningkat.

Pemerintah AS telah menyampaikan bahwa alasan dari peningkatan kasus baru corona positif disebabkan hasil uji cepat yang dilakukan pemerintah. Namun Margaret Harris menilai kasus baru tersebut kemungkinan tidak mencerminkan cakupan penuh dari penyebaran wabah tersebut di AS.

Hal itu disebabkan tingkat pengujian virus corona yang dilakukan AS jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju lainnya. Selain itu, AS juga lambat memberlakukan aturan self quarantine (karantina pribadi) dan social distancing (jarak sosial).

Padahal kasus pertama virus corona di AS dilaporkan pada 20 Januari 2020. Hingga 17 Maret 2020, jumlah kematian akibat corona tercatat mencapai 100 orang. Tetapi dalam waktu sepekan, jumlah tersebut meingkat hingga lebih dari enam kali lipat menjadi 690 orang pada Selasa (24/3/2020).

“Bahkan pada Senin (23/3/2020), AS mencatat kematian 100 orang akibat virus corona, merupakan yang tertinggi dalam sepekan terakhir,” kata Margaret Harris.

Pada Senin (23/3), Gedung Putih akhirnya merilis pedoman “15 Hari untuk Menghentikan Penyebaran corona”. Namun Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan agar kegiatan perekonomian kembali normal seusai libur Paskah, yakni pada pertengahan April 2020, justru ketika para ahli memperkirakan kemungkinan wabah corona di AS mencapai puncak wabah.



Sumber: Suara Pembaruan