Dampak Corona Lebih Buruk dari Krisis Ekonomi 2008

Dampak Corona Lebih Buruk dari Krisis Ekonomi 2008
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Johannes Eisele)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 25 Maret 2020 | 18:03 WIB

Stockholm, Beritasatu.com - Dampak wabah virus corona (Covid-19) terhadap perekonomian global diprediksi lebih buruk dari krisis ekonomi 2008 dan berpotesi menghancurkan perekonomian negara-negara berkembang, khususnya di Asia Selatan, Amerika Latin dan Afrika.

Pengamat ekonomi menyatakan, wabah Covid-19 yang telah memukul pasar keuangan, harga minyak dan sektor manufaktur, telah membuat banyak investor melarikan investasi mereka dari negara-negara berkembang ke negara maju yang kondisi ekonominya lebih stabil.

"Ini akan sama buruknya, atau bahkan berpotensi lebih buruk, daripada krisis keuangan global pada 2008, terutama untuk pasar negara berkembang. Perekonomian negara berkembang akan suram," kata Per Hammarlund, kepala ahli strategi pasar negara berkembang di SEB Group, sebuah bank investasi global yang berbasis di Stockholm, Swedia, Rabu (25/3/2020).

Hal itu, lanjut Per Hammarlund, sudah terlihat dari melemahnya mata uang negara-negara berkembang terhadap dolar, yang diperparah oleh peningkatan impor bahan makanan dan peralatan medis karena pasokannya menipis.

Tingginya permintaan sementara pasokan berkurang karena banyak pabrik yang libur produksi akibat wabah korona, membuat banyak negara berkembang harus membayar lebih mahal untuk mengimpor bahan kebutuhan dasar dan perlatanan medis.

Banyak perusahaan dan usaha kecil yang berhenti beproduksi akhirnya merumahkan karyawan, tanpa upah harian. Hal itu membawa gelombang baru krisis ekonomi di negara-negara berkembang yang sebelumnya sudah terpuruk akibat konflik politik dan perang saudara.

Oxford Economics menyatakan negara-negara di Asia Selatan, Amerika Latin dan Afrika telah mengalami krisis ekonomi, di mana pemerintah dibebani utang luar negeri. Sejak 2007, total utang publik dan swasta di pasar negara berkembang telah berlipat ganda dari sekitar 70 % dari output ekonomi tahunan menjadi 165%. Hal itu akan semakin diperparah dengan dampak dari wabah corona.

Per Hammarlund menambahkan, terpuruknya perekonomian negara-negara berkembang juga merupakan ancaman bagi kekayaan global. Pasalnya, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), pasar negara berkembang menyumbang 60% dari ekonomi dunia berdasarkan daya beli.

"Perlambatan ekonomi di negara-negara berkembang adalah perlambatan bagi ekonomi global," ujar Per Hammarlund.



Sumber: Suara Pembaruan