Pandemi Corona, Investor Alihkan Investasi ke Obligasi AS

Pandemi Corona, Investor Alihkan Investasi ke Obligasi AS
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / David Dee Delgado)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 25 Maret 2020 | 19:06 WIB

New York, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) telah memicu pembalikan tajam investasi internasional menjauh dari pasar keuangan negara berkembang. Para investor mengalihkan dana mereka dari negara berkembang ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi Amerika Serikat (US Bond).

Institute of International Finance menyatakan sejak akhir 2019 hingga awal 2020, sekelompok pasar negara berkembang termasuk Tiongkok, India, Afrika Selatan dan Brasil menerima arus masuk investasi bersih sebesar US$ 79 miliar atau sekitar Rp 1.275 triliun.

“Namun selama Februari hingga Maret 2020, investasi bersih senilai US$ 70 miliar ( sekitar Rp 1.129 miliar, Red) telah keluar dari negara-negara tersebut,” demikian hasil riset Instture of International Finance, seperti dikutip The New York Times, Rabu (25/3/2020).

Diperkirakan, pergeseran investasi itu dipicu kekhawatiran bahwa beberapa negara yang mengalami krisis akibat wabah corona akan meluncur menuju kebangkrutan dan gagal bayar, terutama Argentina, Turki dan Afrika Selatan.

Pengamat ekonomi menyatakan, wabah corona yang telah memukul pasar keuangan, harga minyak dan sektor manufaktur, membuat banyak investor melarikan investasi mereka dari negara-negara berkembang ke negara maju yang kondisi ekonominya lebih stabil.

Hal itu, sudah terlihat dari melemahnya mata uang negara-negara berkembang terhadap dolar, yang diperparah oleh peningkatan impor bahan makanan dan peralatan medis karena pasokannya menipis.

Banyak perusahaan dan usaha kecil juga berhenti beproduksi akhirnya merumahkan karyawan, tanpa upah harian. Hal itu membawa gelombang baru krisis ekonomi di negara-negara berkembang yang sebelumnya sudah terpuruk akibat konflik politik dan perang saudara.

Wall Street

Sementara itu, paket stimulus ekonomi untuk mengatasi corona senilai US$ 2 triliun yang disepakati Kongres dan Pemerintah AS, pada Selasa (24/3/2020), membuat Bursa Wall Street di AS bereaksi positif.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) melonjak signifikan, mencatat hari terbaiknya dalam 87 tahun terakher, karena investor berharap paket stimulus dapat menyelamatkan ekonomi dari kerusakan yang disebabkan oleh wabah corona.

DJIA ditutup 2.112,98 poin lebih tinggi atau naik lebih dari 11% pada level 20.704,91, membukukan kenaikan persentase satu hari terbesar sejak 1933. Indeks S&P 500 juga menguat 9,4% ke level 2.447,33, yang juga merupakan kenaikan tertinggi sejak Oktober 2008. Nasdaq Composite melonjak 8,1% ke level 7.417,86. Baik Dow dan S&P 500 keluar dari level terendah sejak akhir 2016.

Meski demikian, pasar saham masih rapuh karena menunggu realisasi dari klaim stimulus untuk pengangguran yang dijanjikan pemerintah AS. Klaim pengangguran akan dilaporkan Pemerintah AS pada Kamis (26/3/2020), dan analis mengharapkan ada adata akurat mengenai jutaan orang AS yang menjadi pengangguran sejak minggu lalu akibat kantor dan pabrik diliburkan untuk mengatasi wabah corona.



Sumber: The New York Times