Teknologi Contact Tracing Corona Singapura Gratis Bagi Developer

Teknologi Contact Tracing Corona Singapura Gratis Bagi Developer
Pusat Penyakit Menular Nasional Singapura (National Centre for Infectious Diseases/NCID).
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 26 Maret 2020 | 06:38 WIB

Singapura, Beritasatu.com - Kurang dari seminggu setelah meluncurkan aplikasi melacak potensi paparan virus corona, Singapura membuat teknologi contact tracing yang bisa diakses secara gratis bagi pengembang di seluruh dunia. Singapura meluncurkan aplikasi bernama TraceTogether pada 20 Maret 2020. Aplikasi ini sebagai alat tambahan dalam upaya pelacakan kontak yang mengandalkan daya ingat dan memori orang yang terinfeksi.

Cara kerja teknologi adalah ponsel yang sudah terpasang aplikasi akan bertukar sinyal bluetooth jarak pendek ketika penggunanya berada di dekat satu sama lain. Rekaman pertemuan itu, termasuk durasi, disimpan di ponsel masing-masing selama 21 hari, menurut pengembang aplikasi itu.

Baca juga: Malam Ini, Jokowi Ikuti KTT G20 Virtual Bahas Corona

Jika pengguna didiagnosis COVID-19, pengembang dapat mengizinkan Kementerian Kesehatan Singapura mengakses data aplikasi mereka untuk mengidentifikasi orang-orang yang memiliki kontak dekat dengan orang terinfeksi.

Singapura mengatakan bahwa ketika seseorang dihubungi, mereka diharuskan oleh hukum untuk membantu Kementerian Kesehatan dalam memetakan secara akurat pergerakan untuk meminimalkan risiko infeksi yang meluas. Hal itu mencakup jadwal, waktu lokasi, log fisik atau digital yang dapat dikumpulkan oleh aplikasi.

Masalah Privasi
Untuk menghindari masalah privasi, Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan data pribadi seperti nama pengguna tidak dikumpulkan pada aplikasi TraceTogether. Aplikasi itu tidak merekam data lokasi daftar kontak telepon pengguna.

"Log data disimpan di ponsel dalam bentuk terenkripsi. Informasi kontak orang-orang disimpan bukan lewat nomor telepon, tetapi menggunakan ID sementara yang dihasilkan secara kriptografis," kata Kementerian Kesehatan.

Namun log dapat dianalisis oleh Kementerian Kesehatan Singapura ketika dianggap perlu dan pengguna dapat dengan mudah diidentifikasi dari informasi itu.

Masalah privasi semakin meningkat ketika pemerintah di seluruh dunia bergantung pada teknologi untuk melacak orang dalam upaya memerangi pandemi corona.

Korea Selatan mempublikasikan pergerakan orang sebelum mereka didiagnosis mengidap virus dengan menelusuri kembali menggunakan pelacakan telepon GPS, catatan kartu kredit, video pengawasan dan wawancara pribadi dengan pasien, Washington Post melaporkan awal bulan ini. Israel memiliki aplikasi yang dapat memperingatkan pengguna jika mereka telah melewati jalur yang telah dilewati seseorang terinfeksi corona.

"Respons terhadap aplikasi Singapura sebagian besar positif,” menurut perwakilan Smart Nation and Digital Goverment Office Singapura.

"Lebih dari 500.000 pengguna dengan nomor ponsel yang terdaftar di Singapura mengunduh aplikasi TraceTogether dalam 24 jam pertama peluncurannya," kata juru bicara itu kepada CNBC.

Baca juga: Dow Jones Menguat Didorong Kesepakatan Stimulus US$ 2 Triliun

Pada Senin, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, mengatakan bahwa aplikasi tersebut telah diinstal oleh lebih dari 620.000 orang. Kementerian Kesehatan tidak menanggapi pertanyaan CNBC soal berapa banyak kontak dekat yang telah diidentifikasi sejauh ini menggunakan aplikasi itu.

Open Source
Juru bicara Smart Nation dan Digital Government Office mengatakan negara-negara lain telah menyatakan minatnya untuk mengadopsi teknologi di balik aplikasi tersebut. "Tim teknik kami bekerja sepanjang waktu untuk menyiapkan basis kode untuk adopsi open source," kata juru bicara itu.

Virus corona, yang pertama kali terdeteksi di provinsi Hubei Tiongkok telah menyebar cepat ke seluruh dunia. Setidaknya 375.498 orang terinfeksi dan menewaskan lebih dari 16.300, dengan kasus dan kematian melonjak di Eropa dan Amerika Serikat.

Sementara Singapura melaporkan 558 kasus pada 24 Maret siang waktu setempat, termasuk dua kematian dan 155 pasien sembuh. Singapura dipuji secara global atas pendekatannya dalam mengelola wabah melalui penelusuran kontak yang ketat dan upaya karantina.



Sumber: CNBC