Salip Tiongkok, Jumlah Kasus Virus Corona di AS Terbanyak di Dunia

Salip Tiongkok, Jumlah Kasus Virus Corona di AS Terbanyak di Dunia
Seorang petugas kesehatan mengawasi antrean kendaraan masyarakat yang ingin melakukan tes COVID-19 di Denver, Colorado, AS, 12 Maret 2020. Layanan tes ini digelar gratis kepada warga yang memenuhi persyaratan tertentu dibuktikan dengan pengantar dari dokter. ( Foto: AFP )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 27 Maret 2020 | 06:17 WIB

New York, Beritasatu.com - Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus virus corona terbanyak di dunia, melewati Italia dan Tiongkok. Menurut data Johns Hopkins University, hingga Kamis malam (26/3/2020), jumlah kasus positif corona di AS mencapai 82.404 kasus, lebih banyak dari Tiongkok dengan 81.782 kasus dan Italia dengan 80.589 kasus.

Baca juga: WHO: AS Jadi Pusat Baru Pandemi Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, sejak virus tersebut muncul di Wuhan, Tiongkok Desember lalu, lebih dari 500.000 orang di penjuru dunia terinfeksi dan jumlah ini terus bertambah.

"Pandemik ini terus melaju. Dalam 67 hari sejak kasus pertama, jumlah kasus menembus 100.000 orang, lalu 11 hari kemudian bertambah lagi 100.000 kasus, dan empat hari berikutnya, bertambah lagi 100.000 kasus," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Swiss, Senin lalu.

New York adalah negara bagian yang paling banyak mencatat kasus dengan 37.258 kasus per Kamis malam. Gubernur New York mengatakan masih banyak kasus yang belum tercatat karena kurangnya alat tes.

Menurut survei yang dilakukan Reuters/Ipsos, jumlah kasus virus corona di AS sebenarnya bisa jadi jauh lebih besar dari yang dilaporkan saat ini. Dalam polling, 2,3 persen responden mengatakan mereka didiagnosa mengidap corona. Jumlah ini jika diterjemahkan ke populasi bisa mencapai jutaan orang. Sebanyak 2,4 persen mengatakan mereka pernah kontak dengan orang yang positif corona dan 2,6 persen mengatakan mereka mengetahui orang yang pernah kontak. Reuters/Ipsos menyurvei 4.428 responden dewasa antara 18-24 Maret.

 



Sumber: CNBC.com, Reuters