Kapal Induk Amerika Terjangkit Wabah Corona dan Menyebar Cepat

Kapal Induk Amerika Terjangkit Wabah Corona dan Menyebar Cepat
Kapal induk Amerika Serikat USS Theodore Roosevelt. ( Foto: Wikimedia )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 1 April 2020 | 01:58 WIB

Beritasatu.com - Kapal induk Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt, telah melaporkan banyak kasus positif virus corona atau Covid-19 di antara sekitar 4.000 krunya, dan saat ini berlabuh di perairan Guam.

Kapten kapal induk tersebut sudah meminta bantuan ke pemerintah AS untuk menghentikan penyebaran penyakit pernapasan akut ini.

"Kami tidak sedang berperang, para kru tidak sepantasnya mati," kata Kapten Brett Crozier dalam suratnya kepada Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon.

Kapten Crozier juga merekomendasikan agar seluruh kru menjalani karantina.

Media Amerika, San Francisco Chronicle, adalah yang pertama kali melaporkan kabar tersebut, dan menyebut setidaknya 100 kru di kapal induk itu telah dinyatakan positif Covid-19.

Dalam suratnya, Kapten Crozier menggambarkan gawatnya kondisi di dalam kapal, bahwa wabah ini tidak terbendung dan penularannya “masih berlangsung dan makin cepat”.

Gangguan kram yang merupakan kondisi umum di kapal seperti Theodore Roosevelt, membuat upaya melakukan physical distance atau jaga jarak sangat sulit dilakukan karena para kru harus saling membantu yang lain. Situasi ini membuat penularan sulit dicegah.

"Memindahkan mayoritas personel dari sebuah kapal induk AS bertenaga nuklir yang sedang bertugas dan kemudian mengisolasi mereka selama dua pekan memang terlihat seperti upaya yang luar biasa," tulis Kapten Crozier.

"Namun ini risiko yang harus diambil,” imbuhnya.

Angkatan Laut AS memastikan akan “bergerak cepat mengambil tindakan yang perlu guna memastikan kesehatan dan keselamatan para kru USS Theodore Roosevelt".

Selasa (31/3/2020) kemarin, jumlah kematian akibat virus corona di AS sudah melampaui Tiongkok, negara asal mula pandemik ini. Setidaknya sudah 3.400 orang meninggal di AS karena Covid-19.

Selain itu, AS memiliki 175.000 kasus positif atau yang tertinggi di dunia, menurut data Johns Hopkins University.



Sumber: BBC