Kematian Akibat Corona di New York Lebih Buruk dari Serangan 11/9

Kematian Akibat Corona di New York Lebih Buruk dari Serangan 11/9
Seorang perempuan berusia lanjut diturunkan dari ambulans untuk menjalani perawatan di NYU Langone Health Center, New York. Kota New York menjadi "pusat" penyebaran virus corona di Amerika. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 4 April 2020 | 06:45 WIB

New York, Beritasatu.com -Dua dari wilayah utama episentrum virus corona di Amerika Serikat (AS) pada Jumat waktu setempat melaporkan lonjakan jumlah kematian terbesar. Adapun korban tewas di negara bagian New York sebanding dengan hilangnya nyawa di Amerika Serikat pada serangan teroris 11 September 2001 atau dikenal peristiwa (11/9).

Angka itu menunjukkan bahwa gelombang kematian diprediksi terus membanjiri rumah sakit. Bahkan kota-kota kaya seperti New York mulai runtuh.

Wali Kota New York City Bill de Blasio mengatakan New York City sebagai episentrum pandemi virus corona hanya memiliki waktu beberapa hari untuk mempersiapkan diri menghadapi wabah corona. Kematian akibat corona di New York City lebih dari seperempat korban tewas di AS. "Kota New York berlomba-lomba melawan waktu," kata de Blasio pada jumpa pers pada Jumat, atau Sabtu pagi WIB (4/4/2020).

Dia mengatakan saat ini dibutuhkan pasokan medis, personel dan tempat tidur rumah sakit. Dia juga menyerukan kepada pemerintah federal untuk memobilisasi militer. "Kami berurusan dengan musuh yang membunuh ribuan orang Amerika, banyak orang sekarat yang seharusnya tidak perlu mati," katanya.

Baca juga: Corona Meluas, Dow Jones Ambles 300 Poin di Akhir Pekan

Di New York, negara bagian AS yang paling parah dihantam corona, jumlah korban jiwa hampir sama dengan yang terjadi pada 9/11, ketika 3.000 orang terbunuh dlaam serangan teroris di World Trade Center New York City, Amerika Serikat. "Jumlah korban dalam 24 jam di negara bagian New York adalah 562 orang pada Jumat pagi," kata Gubernur New York Andrew Cuomo, sehingga menjadikan total korban di negara bagian itu menjadi hampir 3.000 sejak awal wabah.

"Secara pribadi, sulit untuk melewati ini sepanjang hari, dan kemudian sulit untuk terjaga sepanjang malam menyaksikan angka-angka itu masuk," kata Cuomo.

Polisi Negara Bagian New York mengatakan pada Jumat insiden kekerasan domestik bulan Maret tahun ini naik 15 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2019.

Baca juga: Indonesia Loloskan Resolusi PBB tentang Solidaritas Virus Corona

Wilayah lain Louisiana melaporkan jumlah kematian akibat Covid-19 pada Kamis 310 orang dan bertambah 370 pada Jumat siang. Ini merupakan kematian terbanyak dalam 24 jam akibat virus di negara bagian Selatan. New Orleans, kota utama Louisiana, telah muncul sebagai salah satu klaster baru di AS. Gubernur Louisiana John Bel Edwards pada Jumat meminta agar orang-orang tinggal di rumah untuk menghindari infeksi. Virus ini telah menjadi ancaman yang jauh lebih mematikan di New Orleans dibanding di seluruh Amerika Serikat, dengan tingkat kematian per kapita dua kali lipat dari New York City.

Di New Jersey, Gubernur Phil Murphy memerintahkan bendera diturunkan setengah tiang selama keadaan darurat untuk menghormati mereka yang meninggal akibat corona. Dia mengatakan New Jersey, yang memiliki lebih dari 29.000 kasus, adalah negara pertama yang mengambil tindakan seperti itu.

Berdasarkan data worldometers Sabtu (4/4/2020) pukul 6.30 WIB, corona telah menginfeksi 276.037 di Amerika Serikat atau menyumbang sekitar 24 persen dari 1.096.446 kasus di seluruh dunia.

Berikut lima besar jumlah korban corona di dunia:
1. Amerika Serikat (276.037 kasus) dengan kematian 7.385 dan pasien sembuh 12.268 orang.
2. Italia (119.827 kasus) dengan kematian 14.681 dan pasien sembuh 19.758 orang.
3. Spanyol (119.199 kasus) dengan kematian 11.198 dan pasien sembuh 30.513 orang.
4. Jerman (91.159 kasus) dengan kematian 1.275 dan pasien sembuh 24.575 orang.
5. Tiongkok (81.620 kasus) dengan kematian 3.322 dan pasien sembuh 76.571 orang.

 



Sumber: Reuters