Sekjen PBB: Kasus KDRT Meningkat Akibat Tekanan Corona

Sekjen PBB: Kasus KDRT Meningkat Akibat Tekanan Corona
Foto dokumentasi pada 24 September 2019 Sekretaris Jenderal PBB António Guterres berbicara pada sesi ke-74 Majelis Umum PBB di New York. ( Foto: AFP / Don Emmert )
Natasia Christy Wahyuni / IDS Senin, 6 April 2020 | 20:26 WIB

New York, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan kombinasi dari tekanan sosial dan ekonomi yang disebabkan pandemi virus corona (Covid-19), termasuk pembatasan gerak, secara drastis telah meningkatkan jumlah perempuan dan anak perempuan yang menghadapi pelecehan di hampir semua negara. Guterres mendesak agar seluruh pemerintahan mengutamakan keselamatan perempuan saat menanggapi pandemi.

“Kedamaian bukan hanya tidak ada perang. Banyak perempuan di bawah aturan lockdown untuk Covid-19 yang menghadapi kekerasan dimana mereka seharusnya merasa paling aman, di rumah mereka sendiri,” kata Guterres lewat pernyataannya di Twitter, Minggu (5/4/2020).

Guterres menyerukan langkah untuk mengatasi lonjakan global yang mengerikan dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada perempuan dan anak perempuan terkait aturan lockdown.

“Saya mendorong perdamaian di rumah-rumah seluruh dunia,” tambahnya.

Menurut Guterres, sebelum penyebaran global virus corona pun, statistik memperlihatkan sepertiga perempuan di seluruh dunia mengalami beberapa bentuk kekerasan dalam hidup mereka.

Banyak negara telah melaporkan kenaikan insiden KDRT dan menghubungi hotline pelecehan sejak pandemi corona mulai meluas secara global awal tahun ini. Di Perancis, tingkat KDRT atau kekerasan domestik naik sepertiga dalam satu minggu. Di Afrika Selatan, otoritas menerima hampir 90.000 laporan kekerasan terhadap perempuan dalam pekan pertama lockdown.

Sementara itu, Pemerintah Australia menyatakan pencarian daring untuk dukungan KDRT telah meningkat 75%. Sedangkan, para aktivis di Turki menutut perlindungan lebih besar setelah pembunuhan perempuan naik tajam setelah diberlakukan perintah tinggal di rumah pada 11 Maret.

Seluruh negara telah menyerukan karantina dan lockdown untuk memperlambat penyebaran virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 1,25 juta orang dan menewaskan lebih dari 70.000 orang di seluruh dunia.

Perintah tetap di rumah ini artinya lebih banyak perempuan dan anak perempuan yang terjebak di dalam rumah yang penuh sesak. Sementara itu, para laki-laki yang tinggal bersama mereka telah kehilangan atau tidak mempunyai jalan keluar atas rasa frustasi mereka, seperti menonton pertandingan olah raga atau bertemu teman di bar setempat. Mereka hanya bisa diam di rumah.

Pada saat bersamaan, otoritas seperti polisi, juga kewalahan untuk menanggapi Covid-19, serta kelompok masyarakat sipil juga berjuang untuk mempertahankan staf dan sumber daya mereka. Di beberapa kota, tempat perlindungan bagi korban KDRT telah berubah menjadi pusat-pusat kesehatan.

“Saya mendesak seluruh pemerintah untuk membuat pencegahan dan menangani kembali kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian kunci dari rencana tanggapan nasional mereka untuk Covid-19,” ujar Guterres.



Sumber: BeritaSatu.com