Hari Kedua di ICU, Begini Kondisi PM Boris Johnson

Hari Kedua di ICU, Begini Kondisi PM Boris Johnson
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memberikan penjelasan dalam pertemuan mingguan di House of Commons (parlemen), London, pada 30 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Jessica Taylor )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 8 April 2020 | 06:16 WIB

London, Beritasau.com - Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson yang positif menderita virus corona (covid-19) harus menginap di ruang intensif care unit (ICU) untuk malam kedua pada Selasa waktu setempat atau Rabu dini hari WIB (8/4/2020).

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab yang ditunjuk menjalankan roda pemerintahan mengatakan, bahwa Johnson akan mampu melewati fase kritis ini mengingat PM inggris itu dinilai sebagai pejuang.

"Johnson menerima bantuan oksigen, tetapi kondisinya stabil, semangat (Johnson) dalam kondisi bagus dan bernafas tanpa bantuan," kata Menteri Luar Negeri Dominic Raab, yang berdiri di samping Johnson.

Dia menambahkan bahwa Johnson tidak membutuhkan ventilasi mekanik. "Saya yakin dia akan berhasil (melewati ini) karena satu hal yang saya tahu tentang perdana menteri adalah dia adalah seorang pejuang, dan dia akan kembali ke posisi puncak untuk memimpin kita melalui krisis ini dalam waktu singkat," kata Raab.

Baca juga: Kondisi Memburuk, Boris Johnson Masuk ICU

Perjuangan Johnson dengan virus itu telah mengguncang pemerintah Inggris, yang sekarang memasuki minggu ketiga lockdown. Para ilmuwan menyebut masa ini merupakan fase paling mematikan epidemi corona, yang telah menewaskan sedikitnya 6.159 orang.

Johnson (55) dirawat di Rumah Sakit St Thomas, pada Minggu malam (5/3/2020) setelah menderita gejala demam dan batuk selama lebih 10 hari. Kondisi Johnson memburuk, sehingga perlu dipindahkan ke ICU pada Senin untuk berjaga-jaga memakai ventilator. Pada Selasa malam, kantor Downing Street mengatakan Johnson tetap di ICU dalam pengawasan ketat.

Ratu Elizabeth mendoakan Johnson untuk agar cepat pulih dan mengirim dukungan kepada tunangannya yang tengah hamil, Carrie Symonds, dan keluarganya. Sejumlah pemimpin dunia seperti Presiden AS Donald Trump juga memberikan dukungan.

Raab mengatakan Johnson bukan hanya perdana menteri. "Bagi kita di kabinet, dia bukan hanya bos kita, dia juga seorang kolega dan dia juga teman kita," kata dia.

Siapa yang Pimpin Inggris?
Namun ketidakhadiran Johnson, pemimpin pertama negara besar yang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19, menimbulkan pertanyaan siapa yang benar-benar bertanggung jawab pada saat penting.

Inggris belum berencana melakukan suksesi, jika seorang perdana menteri tidak mampu menjalankan tugasnya. Raab (46) mengatakan Johnson telah memintanya untuk mewakili jalannya pemerinahan selama diperlukan. Jika Raab tidak mampu, Menteri Keuangan Rishi Sunak akan mendukung, meskipun para menteri menolak mengatakan siapa yang sekarang memiliki kendali penuh atas senjata nuklir Inggris.

“Saya yakin dengan pengaturan yang telah dilakukan perdana menteri, sehingga saya dapat melepaskan tanggung jawab untuknya, menggantikannya saat dia tidak bekerja, dan jelas kami berharap itu akan terjadi pada periode yang terbatas," kata Raab.

Dia mengatakan keputusan sedang dibuat secara kolektif oleh kabinet.

Raab mengatakan para menteri memiliki arah dan instruksi yang sangat jelas dari Johnson. Namun, tidak yang dikhawatirkan jika ada perbedaan pendapat.

Baca juga: Virus Corona, PM Inggris Boris Johnson Masuk Rumah Sakit

Johnson dan Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock dinyatakan positif Covid-19 pada 27 Maret lalu. Terbaru, Menteri Kantor Kabinet Michael Gove melakukan isolasi mandiri.

Lockdwon akan Ditinjau Ulang
Sementara Pemerintah Inggris akan memutuskan pada awal minggu depan apakah akan mengurangi penutupan ekonomi dan sosial (lockdown) untuk membendung penularan virus.

Beberapa menteri menyarankan lockdown harus diperpanjang, setelah melihat sejumlah orang melanggar aturan. Raab sendiri mengatakan pemerintah belum dalam posisi untuk meninjau lockwon.

Kepala penasihat ilmiah Inggris mengatakan butuh seminggu lagi sebelum jelas apakah grafik kasus-kasus baru itu akan melandai. Jumlah kematian akibat corona di Inggris pada Selasa mencapai 786 orang, atau yang tertinggi hingga saat ini.

Johnson mengisi jabatan PM pada Juli 2019, setelah menegosiasikan kembali kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.



Sumber: Reuters