Penguburan Massal di New York, Diduga Korban Corona

Penguburan Massal di New York, Diduga Korban Corona
Petugas medis dengan baju pelindung memindahkan jenazah ke truk pendingin yang berfungsi sebagai ruang penyimpanan jenazah sementara di Rumah Sakit Pusat Brooklyn, New York City, pada 9 April 2020. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 10 April 2020 | 23:24 WIB

Beritasatu.com – Belakangan ini beredar foto dan video penguburan massal di New York City ketika korban jiwa akibat virus corona terus meningkat.

Para petugas dengan baju pelindung terlihat mengubur banyak peti mati di Pulau Hart, yang biasanya digunakan untuk mengubur jenazah yang tidak memiliki kerabat dekat atau mereka yang tidak mampu membayar biaya pemakaman.

Selama lebih dari 150 tahun, pulau tersebut memang dimanfaatkan oleh pemerintah kota untuk mengubur jenazah tak dikenal. Biasanya, sekitar 25 jenazah per pekan dikubur di sana.

Namun, intensitas penguburan yang biasanya hanya sekali dalam sepekan meningkat menjadi lima kali sepekan, dan masing-masing sekitar 24 jenazah dikuburkan, menurut juru bicara Kantor Lembaga Pemasyarakatan Jason Kersten.

Jasa penguburan biasanya dikerjakan oleh narapidana dari kompleks penjara di Pulau Rikers, tetapi karena peningkatan jumlah jenazah yang dikubur, tugas itu sekarang diambil alih kontraktor.

Tidak jelas berapa dari jenazah itu yang tidak memiliki kerabat dekat atau keluarganya tidak mampu membayar pemakaman. Pemkot New York telah memperpendek masa penyimpanan jenazah tak dikenal karena lonjakan jumlah pemakaian kamar jenazah.

Wali Kota New York Bill de Blasio sebelumnya mengatakan “penguburan sementara” diperlukan sampai krisis ini selesai.

"Tempat yang biasa kami pakai secara historis adalah Pulau Hart," ujarnya.

Kasus positif Covid-19 di Negara Bagian New York saja telah melampui jumlah kasus di negara mana pun, termasuk Spanyol, Italia, dan Tiongkok.

Di negara bagian tersebut telah dilaporkan sebanyak hampir 162.000 kasus, dan 7.067 pasien telah meninggal, menurut data dari Johns Hopkins University.

Spanyol mencatat 157.000 kasus, Italia 143.600 kasus, dan Tiongkok, negara asal mula pandemik, memiliki 82.000 kasus.

Di Amerika Serikat secara keseluruhan, terdapat 466.000 kasus dengan angka kematian hampir 16.700. Di seluruh dunia, virus ini telah menginfeksi sekitar 1,6 juta orang dan menewaskan 97.000 orang.



Sumber: BBC