Serikat Pekerja di Turki Tuntut Kenaikan Gaji Pekerja Kesehatan

Serikat Pekerja di Turki Tuntut Kenaikan Gaji Pekerja Kesehatan
Anggota serikat pekerja Hak-İş mengibarkan bendera dan menerbangkan balon pada rapat umum saat mereka dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional 2020, di Ankara, Turki, Kamis (30/4/2020). ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 1 Mei 2020 | 14:43 WIB

Ankara, Beritasatu.com - Serikat-serikat pekerja terkemuka Turki menuntut pemerintah menaikan gaji atau memberi honor tambahan kepada pekerja kesehatan yang terus bekerja di tengah wabah virus corona (Covid-19).

Pernyataan itu, disampaikan gabungan serikat pekerja di Turki, dalam rangka memperingati May Day 2020 atau Hari Buruh Internasional Tahun 2020, di Ankara, Turki, Jumat (1/5/2020).

Mahmut Arslan, Kepala Konfederasi Serikat Buruh Nyata Turki (HAK-İŞ), salah satu serikat pekerja terbesar di Turki, mengatakan bahwa mereka memberi hormat kepada pekerja perawatan kesehatan yang berjuang di garis depan untuk membantu pasien yang terinfeksi virus corona.

Terkait dengan itu, HAK-İŞ mengulangi permintaan serikat pekerja perawatan kesehatan yang menginginkan kenaikan gaji atau honor tambahan karena tetap menjalankan tugas mereka di tengah wabah Covid-19.

Hingga Kamis pagi waktu setempat, Turki telah mendaftarkan total 3.174 kematian akibat virus corona, sementara hampir 49.000 orang telah pulih dari penyakit itu. Saat ini ada 120.204 kasus yang dikonfirmasi di negara ini.

"Kami menuntut kondisi yang lebih baik bagi pekerja perawatan kesehatan dan mendesak pemerintah menaikan gaji atau memberi honor tamabah bagi pegawai negeri sipil di sektor perawatan kesehatan. Kenaikan gaji harus mencakup lebih dari 200.000 pekerja di sektor ini, atas jasa mereka dalam menangani wabah Covid-19," ujar Mahmut Arslan.

Tahun ini, HAK-İŞ tidak menggelar aksi demonstrasi Hari Buruh sehari sebelum 1 Mei 2020, dengan mengeluarkan pernyataan yang kali ini berfokus pada wabah dan pekerja perawatan kesehatan.

Pemerintah Turki telah melarang demonstrasi Hari Buruh dengan menegaskan bahwa semua pihak harus menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran virus corona. Terkait dengan itu, pemerintah Turki menerapkan jam malam selama tiga hari, berlaku mulai 1 Mei 2020.

Hal itu, membuat para buruh di Turki tak dapat mengadakan aksi demonstrasi Hari Buruh seperti biasa. Selama ini, Demonstrasi Hari Buruh di Turki selalu berujung pada aksi anarkis dan ditanggapi pemerintah dengan tindakan keras.

Sebagai gantinya, beberapa perwakilan dari serikat pekerja diizinkan untuk membaca pernyataan pers di setiap provinsi oleh gubernur, dengan syarat mematuhi jarak sosial. Pemimpin serikat buruh juga mengeluarkan pesan video pada kesempatan itu.

Meskipun tidak turun ke jalan, serikat buruh mengumumkan bahwa mereka akan menandai Hari Buruh dengan pertemuan daring. Misalnya serikat buruh logam mendesak anggotanya untuk membacakan lagu kebangsaan dan menggantung spanduk di balkon rumah mereka.



Sumber: CNA, The Guardian