Korban Jiwa Corona di Amerika Lampaui 65.000

Korban Jiwa Corona di Amerika Lampaui 65.000
Koordinator Satgas Covid-19 Gedung Putih, Deborah Birx (kiri), dan Direktur Institut Nasional Bidang Alergi dan Penyakit Menular Anthony Fauci menampilkan grafik kasus virus corona di Gedung Putih, Washington DC, 31 Maret 2020. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Minggu, 3 Mei 2020 | 03:06 WIB

Beritasatu.com – Korban jiwa akibat wabah virus corona di Amerika Serikat telah melampaui angka 65.000, Sabtu (2/5/2020) waktu setempat, jumlah yang sebelumnya ditetapkan sebagai angka paling optimistis dalam prediksi yang dibuat para pakar.

Sebelumnya Gugus Tugas Covid-19 Gedung Putih memprediksi kematian akibat virus corona antara 100.000 hingga 200.000 orang, tetapi jumlah itu bisa ditekan ke angka 65.000 jika upaya mitigasi dan seruan jaga jarak dilakukan dengan ketat dan dipatuhi warga.

Tonggak kelabu ini makin mengukuhkan Amerika sebagai negara dengan korban jiwa terbesar dalam pandemik Covid-19, dengan kasus positif lebih dari 1,1 juta orang.

Baca juga: Amerika Pesan 100.000 Kantong Jenazah

Namun, dibandingkan populasi AS yang sekitar 330 juta, rasio kematian relatif lebih rendah dibandingkan data di sejumlah negara Eropa seperti Italia dan Spanyol.

Hanya saja, para pakar khawatir bahwa jumlah korban jiwa di AS jauh lebih besar dari data resmi pemerintah.

Para peneliti mengkhawatirkan bahwa sebenarnya ada 9.000 korban jiwa lagi akibat wabah ini yang belum terdata, seperti diberitakan BBC.

Saat ini upaya mitigasi dan pembatasan sosial mendapat banyak protes dari warga. Sejumah negara bagian telah melonggarkan perbatasan. Texas, yang memiliki populasi 29 juta orang, telah mencabut instruksi “tinggal di rumah”.

Baca juga: Amerika Setujui Obat Ebola untuk Pasien Corona

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, jumlah korban jiwa di tujuh negara bagian yang paling parah terdampak naik hampir 50% dalam periode antara 8 Maret hingga 11 April.



Sumber: BBC