Indonesia Dukung Penyelidikan Covid-19 oleh WHO

Indonesia Dukung Penyelidikan Covid-19 oleh WHO
Teuku Faizasyah (Foto: Istimewa)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Selasa, 19 Mei 2020 | 14:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia hanya akan mendukung penyelidikan terkaid wabah virus corona (Covid-19), jika dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Pernyataan itu, disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Teuku Faizasyah, menaggapi kabar bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang mendukung resolusi untuk penyelidikan awal mula wabah virus corona (Covid-19), yang dibahas dalam pertemuan virtual Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA), Organisasi Kesehatan Dunia, pada Senin (18/5/2020) hingga Selasa (19/5/2020).

Menurut jaringan televisi Australia, ABC News, sebanyak 116 negara, telah memberikan dukungan (co-sponsor) atas draf resolusi terkait investigasi independen yang diharapkan disahkan dalam pertemuan WHA tersebut.

Lebih dari 100 negara termasuk 50 negara Afrika dan seluruh negara anggota Uni Eropa (UE) disebut mendukung resolusi untuk menyerukan penyelidikan independen atas pandemi virus corona.

Menurut ABC News, koalisi negara-negara yang memberikan dukungan antara lain Inggris, Kanada, India, Indonesia, Jepang, Selandia Baru, dan Rusia.

Teuku Faizasyah menegaskan istilah koalisi kurang tepat. “Istilah yang tepat dan baku dalam kerangka kerja sama multilateralisme adalah beberapa negara bersama-sama menjadi co-sponsor satu rancangan resolusi,” ujar Teuku Faizasyah.

Mengenai resolusi yang diusulkan ke dalam WHA tersebut, lanjut Teuku Faizasyah, Indonesia mendukungnya dalam kerangka mekanisme sebelumnya, yaitu belajar dari pengalaman koordinasi yang selama ini dilakukan WHO (lesson learnt).

Dengan demikian, Indonesia hanya mendukung investigasi Covid-19 yang dilakukan WHO. “Jadi bukan investigasi independen,” kata Teuku Faizasyah.

Australia menjadi negara pertama yang meminta penyelidikan independen tentang asal mula virus corona. Usulan tersebut memicu kecaman keras dari Tiongkok karena menganggap Australia melancarkan serangan kepada negara itu.

Australia tidak secara khusus menyebut Tiongkok atau kota Wuhan sebagai pusat penularan virus, namun meminta WHO bekerja sama dengan Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (World Organisation for Animal Health) agar melakukan misi lapangan kolaboratif dan ilmiah dan mengidentifikasi sumber zoonosis virus dan rute penyebarannya kepada populasi manusia, termasuk kemungkinan peran dari inang perantara. Menurut sumber-sumber Australia, bahasa itu cukup kuat untuk memastikan penyelidikan tepat dan menyeluruh.



Sumber: Suara Pembaruan