Ini Isi Lengkap Ultimatum dan Ancaman Trump pada WHO

Ini Isi Lengkap Ultimatum dan Ancaman Trump pada WHO
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih , 19 Mei 2020. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Rabu, 20 Mei 2020 | 12:51 WIB

Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim surat yang mengultimatum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan reformasi mendasar atau kalau tidak bakal kehilangan pendanaan dan keanggotaan Amerika sekaligus.

Trump menyebarluaskan salinan surat tersebut di akun Twitter miliknya.

Surat itu dikirim Senin (18/5/2020) malam, dan tampak sengaja dibuat berbarengan dengan hari pertama dimulainya sidang virtual Majelis Kesehatan Dunia membahas kinerja WHO dalam menangani pandemik Covid-19.

Surat itu ditujukan langsung kepada Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Berikut isi lengkap surat tersebut:

Yth. Dr. Tedros,

Pada 14 April 2020 saya menghentikan sementara kontribusi Amerika Serikat kepada Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] hingga dilakukannya investigasi oleh pemerintahan saya terkait kegagalan organisasi ini dalam merespons wabah COVID-19.

Peninjauan yang dilakukan makin menegaskan adanya banyak masalah serius seperti yang telah saya ungkit bulan lalu dan juga menemukan masalah-masalah lain yang harus segera diselesaikan oleh WHO, khususnya masalah ketergantungan WHO kepada Republik Rakyat Tiongkok.

Dari peninjauan tersebut, kami sekarang mengetahui hal-hal berikut ini:

WHO secara konsisten mengabaikan laporan-laporan yang kredibel tentang penyebaran virus di Wuhan pada awal Desember 2019 atau mungkin malah lebih dini lagi, termasuk laporan dari jurnal medis The Lancet. WHO gagal untuk menyelidiki secara independen laporan-laporan kredibel yang berbeda dengan pernyataan resmi pemerintah Tiongkok, bahkan meskipun laporan itu datang dari sumber-sumber di Wuhan sendiri.

Setidaknya sebelum 30 Desember 2019, kantor WHO di Beijing tahu bahwa ada “masalah besar kesehatan masyarakat” di Wuhan. Antara 26 Desember dan 30 Desember, media-media Tiongkok menyoroti bukti kemunculan virus baru dari Wuhan, berdasarkan data pasien yang dikirim ke sejumlah perusahaan genomics Tiongkok. Di samping itu, pada periode tersebut Dr. Zhang Jixian, seorang dokter dari Rumah Sakit Pengobatan Tiongkok dan Barat di Provinsi Hubei, menyampaikan ke otoritas kesehatan Tiongkok bahwa satu jenis virus corona baru telah menyebabkan penyakit baru yang pada saat itu menyerang sekitar 180 pasien.

Hari berikutnya, otoritas Taiwan menyampaikan informasi kepada WHO tentang indikasi penularan antar-manusia oleh virus baru tersebut. Namun, WHO memilih untuk tidak membagi informasi yang sangat penting ini kepada masyarakat dunia, kemungkinan besar karena alasan politik.

Baca juga: Ini Jawaban Tiongkok Atas “24 Kebohongan Amerika”

Regulasi Kesehatan Internasional mensyaratkan semua negara untuk melaporkan risiko kesehatan darurat dalam 24 jam. Namun, Tiongkok tidak menginformasikan kepada WHO soal beberapa kasus pneumonia misterius di Wuhan sampai 31 Desember 2019, meskipun negara itu kemungkinan sudah mengetahui kasus-kasus tersebut beberapa hari atau beberapa pekan sebelumnya.

Menurut Dr. Zhang Yongzhen dari Pusat Klinik Kesehatan Masyarakat Shanghai, dia menyampaikan ke pihak berwenang Tiongkok pada 5 Januari 2020 bahwa dia memiliki sekuen genome virus tersebut. Informasi ini tidak dipublikasikan hingga enam hari berikutnya, atau pada 11 Januari 2020 ketika Dr. Zhang berinisiatif sendiri mengunggahnya secara online. Hari berikutnya, pihak berwenang Tiongkok menutup lab dia untuk dilakukan “koreksi.” WHO sendiri mengakui unggahan Dr. Zhang adalah wujud “transparansi” yang bagus. Namun, WHO nyata-nyata berdiam diri pada penutupan lab Dr. Zhang dan penegasannya bahwa dia telah memberi tahu pihak berwenang RRT tentang terobosan yang dia lakukan enam hari sebelumnya.

WHO telah berulangkali membuat pernyataan tentang virus corona yang ternyata tidak akurat dan menyesatkan.

- Pada 14 Januari 2020, WHO membeo klaim RRT -- yang sekarang sudah terbukti keliru -- bahwa virus corona tidak bisa menular antar-manusia, dengan mengatakan: “Investigasi awal yang dilakukan otoritas RRT tidak menemukan bukti nyata adanya penularan virus corona baru (2019-nCov) antar-manusia yang terjadi di Wuhan, RRT.” Penegasan ini bertentangan langsung dengan laporan-laporan dari Wuhan yang telah disensor.

- Pada 21 Januari 2020, Presiden RRT Xi Jinping dikabarkan menekan Anda untuk tidak menyatakan wabah virus corona sebagai kondisi darurat. Anda tunduk pada tekanan ini dan hari berikutnya Anda mengatakan kepada dunia bahwa virus corona bukanlah Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional. Lebih dari sepekan kemudian, pada 30 Januari 2020, bukti-bukti melimpah yang berlawanan akhirnya memaksa Anda untuk berubah haluan.

- Pada 28 Januari 2020, setelah bertemu Presiden Xi di Beijing, Anda memuji pemerintah Tiongkok karena “transparansi” yang dimilikinya terkait virus corona, dan mengatakan RRT telah menciptakan “standar baru dalam pengendalian wabah” dan “memberi waktu kepada dunia [untuk bersiap]”. Anda tidak menyebutkan bahwa RRT ketika itu membungkam atau menghukum sejumlah dokter karena mengungkap virus ini, dan mencegah lembaga-lembaga RRT untuk menyebarkan informasi tentang ini.

Bahkan setelah Anda terlambat mengumumkan wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional pada 30 Januari 2020, Anda kembali gagal menekan RRT agar menerima tim pakar medis internasional WHO tepat waktu. Akibatnya, tim yang sangat penting ini baru tiba di RRT dua pekan kemudian, pada 16 Februari 2020. Dan bahkan ketika itu, tim tersebut tidak diizinkan berkunjung ke Wuhan sampai hari terakhir kunjungan mereka. Secara luar biasa, WHO berdiam diri ketika RRT melarang sama sekali dua warga Amerika anggota tim tersebut untuk masuk Wuhan.

Anda juga sangat memuji pembatasan perjalanan domestik yang ketat di RRT, tetapi menentang keputusan saya menutup perbatasan AS, atau larangan masuk pada orang-orang yang datang dari RRT. Saya tetap menerapkan larangan itu terlepas dari kehendak Anda. Permainan politik Anda dalam masalah ini mengorbankan nyawa, karena pemerintah negara-negara lain yang berpedoman pada pernyataan Anda telah menunda penerapan pembatasan perjalanan menuju dan dari RRT. Hebatnya lagi, pada 3 Februari 2020, Anda memperkuat posisi dengan beropini bahwa karena RRT telah bekerja dengan bagus untuk melindungi dunia dari virus ini, maka pembatasan perjalanan “lebih banyak kerugian daripada keuntungannya”. Namun pada saat itu dunia sudah tahu bahwa sebelum menutup Wuhan, otoritas RRT telah membolehkan lebih dari 5 juta warganya untuk keluar dari kota itu dan banyak dari mereka yang kemudian melakukan perjalanan internasional ke seluruh dunia.

Baca juga: Semua Negara Kecuali Amerika Dukung WHO

Sampai 3 Februari 2020, RRT menekan negara-negara lain untuk mencabut pembatasan perjalanan. Tekanan ini didukung oleh pernyataan-pernyataan keliru dari Anda yang pada hari itu mengatakan kepada dunia bahwa penyebaran virus ini di luar RRT “minimal dan lambat” dan bahwa “peluang membawa keluar [virus] ini dari Tingkok sangat kecil”.

Pada 3 Maret 2020, WHO mengutip data resmi RRT untuk meremehkan risiko serius penyebaran oleh orang tanpa gejala, dengan menyampaikan kepada dunia bahwa “COVID-19 tidak menular seefisien influenza”, dan bahwa berbeda dengan influenza, penyakit ini tidak dibawa oleh “orang yang terinfeksi tetapi belum sakit”. Bukti yang dimiliki RRT, kata WHO pada dunia, “menunjukkan bahwa hanya 1% kasus yang tanpa gejala, dan sebagian besar kasus menunjukkan gejala dalam dua hari”. Namun banyak pakar mempertanyakan penegasan semacam itu, berbasis data dari Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara lain. Sekarang jelas bahwa berbagai penegasan RRT yang kemudian diteruskan kepada dunia oleh WHO ternyata sangat tidak akurat.

Pada saat Anda akhirnya mengumumkan virus ini sebagai pandemik pada 11 Maret 2020, penyakit itu sudah membunuh lebih dari 4.000 orang dan menginfeksi lebih dari 100.000 orang di sedikitnya 114 negara di seluruh dunia.

Pada 11 April 2020, sejumlah duta besar dari Afrika menulis surat kepada Kementerian Luar Negeri RRT tentang tindakan diskriminasi terhadap orang-orang Afrika terkait pandemik di Guangzhou dan kota-kota lain di RRT. Anda mengetahui bahwa pihak berwenang RRT memaksa orang-orang tersebut menjalani karantina, atau mengusir, dan bahkan menolak memberi pelayanan pada mereka. Anda belum menyampaikan komentar atas aksi diskriminatif dan rasial RRT. Namun, Anda sudah melabeli keluhan Taiwan atas kegagalan Anda menangani pandemik ini sebagai tindakan rasial.

Baca juga: Trump Pertimbangkan Putus Hubungan Diplomatik dengan Tiongkok

Sepanjang krisis ini, WHO patut dicurigai karena terus memuji “transparansi” RRT. Anda telah melakukan ini secara konsisten meskipun Tiongkok tidak transparan sama sekali. Pada awal Januari, misalnya, Tiongkok memerintahkan agar sampel virus ini dihancurkan, menghalangi dunia untuk mendapatkan informasi yang krusial. Bahkan sekarang, Tiongkok terus menyepelekan Regulasi Kesehatan Internasional dengan menolak membagi data sampel virus yang akurat pada waktunya, dan dengan menyembunyikan informasi vital soal virus dan asal usulnya. Dan sampai hari ini, Tiongkok terus menolak memberi akses kepada masyarakat internasional untuk berhubungan dengan ilmuwan dan fasilitas terkait miliknya, sembari membantah melakukan kesalahan dan menyensor para pakarnya sendiri.

WHO tidak bersedia untuk mendesak Tiongkok mengizinkan adanya investigasi independen terhadap asal-usul virus meskipun diperkenankan melakukan itu oleh Komite Darurat WHO sendiri. Kegagalan WHO melakukan itu telah memaksa negara-negara anggotanya untuk mengadopsi Resolusi “Tanggap COVID-19” pada sidang Majelis Kesehatan Dunia tahun ini, memenuhi seruan dari Amerika Serikat dan banyak negara lain untuk dilakukan peninjauan yang imparsial, independen, dan menyeluruh terhadap cara WHO menangani krisis ini. Resolusi tersebut juga menyerukan adanya investigasi terhadap asal-usul virus, yang dibutuhkan oleh dunia untuk memahami cara terbaik menangkal penyakit ini.

Mungkin, yang lebih buruk dari semua kegagalan ini adalah bahwa kita tahu WHO seharusnya bisa lebih baik lagi. Hanya beberapa tahun yang lalu, di bawah komando seorang direktur jenderal yang berbeda, WHO bisa banyak membantu dunia. Pada 2003, menanggapi adanya wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di Tiongkok, Direktur Jenderal Harlem Brundtland dengan berani mengumumkan peringatan perjalanan darurat WHO yang pertama dalam 55 tahun, dengan merekomendasikan agar orang tidak bepergian ke dan dari episentrum wabah di wilayah selatan Tiongkok. Dia juga tidak ragu-ragu mengkritik Tiongkok karena membahayakan kesehatan masyarakat global dengan upaya menutup-nutupi wabah tersebut dengan cara menangkap orang yang menyebarkan informasi dan menyensor media. Banyak nyawa seharusnya bisa diselamatkan jika Anda mencontoh tindakan Dr. Brundtland.

Jelas bahwa kesalahan berulang dari Anda dan organisasi yang Anda pimpin dalam merespons pandemik ini sudah amat sangat merugikan dunia. Satu-satunya jalan keluar bagi WHO ke depan adalah dengan benar-benar menunjukkan independensi dari Tiongkok. Pemerintahan saya telah memulai diskusi dengan Anda tentang bagaimana mereformasi organisasi ini. Namun dibutuhkan tindakan yang cepat. Kami tidak bisa membuang waktu lagi. Karena itulah sudah menjadi kewajiban saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk menyampaikan kepada Anda bahwa jika WHO tidak melakukan perbaikan yang substantif dalam 30 hari ke depan, pembekuan sementara iuran ke WHO dari Amerika Serikat akan saya permanenkan dan saya akan pertimbangkan kembali keanggotaan kami. Saya tidak bisa membiarkan para pembayar pajak America membiayai organisasi yang, dalam kondisi saat ini, jelas-jelas tidak melayani kepentingan Amerika.



Sumber: BeritaSatu.com