WHO: Amerika Selatan Episentrum Baru Pandemi Covid-19

WHO: Amerika Selatan Episentrum Baru Pandemi Covid-19
Petugas kesehatan memperlihatkan hasil rapid test Covid-19 warga di Kelurahan Pondok Betung, Tangerang Selatan, Kamis (14/5/2020). Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar rapid test massal gratis kepada lebih dari 500 warga setempat untuk memastikan kesehatan dan mengantisipasi penyebaran virus corona. (Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 23 Mei 2020 | 06:30 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Jumat (22/5/2020) bahwa episentrum pandemi global Covid-19 telah bergeser ke Amerika Selatan ketika kasus di Rio de Janeiro dan Sao Paulo, Brasil meledak, enam bulan setelah corona muncul di sejumlah negara di dunia dari Wuhan, Tiongkok.

“Kami melihat kasus terus meningkat di banyak negara Amerika Selatan, dan jelas ada kekhawatiran di banyak negara tersebut, tetapi yang paling parah saat ini adalah Brasil," kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, pada briefing dari kantor pusat WHO Jenewa.

Dengan kata lain kata dia, Amerika Selatan telah menjadi episentrum baru Covid-19.

Brasil tercatat sebagai negara dengan kasus terbesar di Amerika Selatan, menurut laporan harian WHO terbaru. Ryan mengatakan kasus yang dikonfirmasi di negara itu 330.890 dan telah menewaskan hampir 21.000 orang di Brasil. Kasus di Brasil berada di urutan kedua di dunia setelah AS dengan 1,6 juta kasus dan menewaskan 97.635 orang.

Baca juga: Pandemi Covid-19 di Brasil Memburuk, Kasus Baru Capai 20.000

Ryan mencatat bahwa pemerintah Brazil telah menyetujui penggunaan obat anti-malaria hydroxychloroquine secara lebih masif. Obat ini juga diminum Presiden AS Donald Trump untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi Covid-19. Namun beberapa penelitian meragukan kemanjuran hydroxychloroquine sebagai pengobatan penyakit ini. Sebuah penelitian yang diterbitkan Jumat (22/5/2020) menunjukkan bahwa pasien yang menonsumsi obat ini memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding yang tidak meminumnya. "Hingga kini bukti klinis tidak mendukung penggunaan hydroxychloroquine untuk pengobatan Covid-19," kata Ryan.

Ryan mengatakan, mayoritas kasus di Brasil berada di wilayah Sao Paulo. Wilayah lain yang terdampak cukup signfikan adalah Rio de Janeiro, Ceara, Amazonas dan Pernambuco. Dia mengatakan WHO secara aktif memberikan bantuan kepada pemerintah Brasil. "Dalam hal tingkat serangan (infeksi) tertinggi sebenarnya di Amazonas," kata Ryan. "Sekitar 490 orang terinfeksi per 100.000 populasi, yang merupakan tingkat infeksi cukup tinggi."

Baca juga: Rusia Tempati Peringkat Kedua Dunia Kasus Covid-19

Amozonas, salah satu negara bagian paling pedesaan di Brasil, bulan lalu mengatakan bahwa sistem kesehatannya dipenuhi pasien Covid-19. Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO Maria Van Kerkhove menekankan pentingnya bagi semua negara untuk melindungi populasi yang berisiko.

"Semua negara memiliki populasi yang rentan, dan kami melihat dampak lebih besar dari penyakit, tingkat keparahan penyakit, hasil yang buruk pada kelompok rentan," katanya. “Ini menyoroti ketidaksetaraan yang kita lihat dalam kelompok rentan.”

Pada bulan Maret, WHO menyatakan bahwa episentrum virus telah meninggalkan Tiongkok, tempat pertama kali virus muncul dan menyebar ke Eropa. Saat ini Covid-19 telah menginfeksi mendekati 5,3 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan sedikitnya 339.063 orang, menurut data worldometers Sabtu (23/5/2020) pukul 06.30 WIB.



Sumber: CNBC