Status Darurat Covid-19 Tokyo Segera Dicabut

Status Darurat Covid-19 Tokyo Segera Dicabut
Dua orang pria bermasker berbelanja di sebuah supermarket di Tokyo, Jepang, 23 April 2020. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 25 Mei 2020 | 11:11 WIB

Tokyo, Beritasatu.com - Jepang akan mencabut status darurat di Tokyo dan beberapa area lainnya yang masih menjalankan pembatasan sosial akibat Covid-19. Di sisi lain, surat kabar Nikkei melaporkan bahwa Pemerintah Jepang mempersiapkan paket stimulus baru senilai 100 triliun yen untuk perusahaan-perusahaan yang terdampak virus corona.

Pembatasan sosial di Jepang sudah dilonggarkan sejak 14 Mei lalu karena kasus Covid-19 menurun, tetapi Tokyo dan empat prefektur lainya masih dalam pengawasan.

Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan hari ini, Senin (25/5/2020), bahwa pemerintah telah mendapatkan persetujuan dari para pakar dan penasihat untuk mencabut status darurat. PM Jepang Shinzo Abe dijadwalkan akan mengadakan rapat dengan gugus tugas Covid-19 sore ini, diikuti dengan pengumuman pencabutan status darurat.

Jika terealisasi, maka, untuk pertama kalinya, Jepang akan sepenuhnya bebas dari status darurat sejak diberlakukan 1,5 bulan lalu. Hingga hari ini, Jepang tercatat memiliki 17.000 lebih kasus positif dengan korban jiwa 825 orang.

"Menjelang pencabutan status darurat, penting bagi aktivitas ekonomi untuk dibuka secara bertahap sambil kita menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru (pascacorona)," kata Menteri Yasutoshi Nishimura.

Para pakar dan penasihat pemerintah merekomendasikan area Tokyo, Kanagawa, dan Hokkaido tetap diawasi dengan ketat karena kasus masih berfluktuasi.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan, dengan dicabutnya status darurat, maka Tokyo akan memulai tahap pertama dengan melonggarkan pembatasan sosial. Perpustakaan dan museum akan dibuka kembali. Restoran juga bisa dibuka hingga larut malam. Tahap berikutnya adalah pembukaan kembali teater, bioskop dan taman hiburan.

Stimulus baru
Untuk membangkitkan kembali perekonomian yang mengalami resesi parah sejak era pascaperang, Pemerintah Jepang berencana mengucurkan stimulus baru senilai 100 triliun yen atau sekitar Rp 13.671 triliun.

Dana stimulus baru ini berasal dari anggaran suplementer. Bulan lalu, Jepang juga menyalurkan stimulus sebesar 117 triliun yen. Jika ditotal, maka Jepang menghabiskan anggaran setara 40 persen dari PDB.

Paket stimulus baru mencakup program pinjaman sebesar total 60 triliun yen untuk BUMN dan institusi keuangan swasta. Dana 27 triliun yen akan digunakan untuk penambahan modal perusahaan sakit. Alokasi anggaran untuk subsidi perusahaan membayar sewa dan karyawan juga disiapkan.

Perekonomian Jepang memasuki resesi kuartal pertama 2020 dan para analis memperkirakan kontraksi 22 persen pada triwulan April-Juni.



Sumber: Reuters