Muslim Kamerun Protes Larangan Salat Id Akibat Wabah Covid-19

Muslim Kamerun Protes Larangan Salat Id Akibat Wabah Covid-19
Kamerun (Foto: ist)
Jeany Aipassa / JAI Senin, 25 Mei 2020 | 14:00 WIB

Yaounde, Beritasatu.com - Umat Muslim Kamerun memprotes larangan salat Id dalam rangka perayaan Idul Fitri yang jatuh pada Minggu (24/5/2020).

Perintah itu, dikeluarkan Pemerintah Kamerun pada Sabtu (23/5/2020), atau sehari menjelang perayaan Idul Fitri, setelah lebih dari 500 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19) dalam 24 jam terakhir.

Pemerintah Kamerun menyatakan larangan salat Id merupakan bagian dari langkah-langkah untuk menghentikan penyebaran virus corona (Covid-19) yang kasusnya terus meningkat di negara itu.

Hingga pekan lalu, tercatat 4.400 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dan 197 kematian di negara bagian Afrika tengah itu, dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Pengumuman tersebut langsung mendapat protes dari warga Kamerun dan ribuan warga net. Mereka melontarkan protes melalui media sosial.

Salah satu warga, Muslim Issa Karimou, mengatakan bahwa meskipun dia sadar akan bahaya Covid-19, dia tak ingin melanggar ajaran Nabi Muhammad seperti disebutkan dalam Al-Quran, di mana salat Id harus dilakukan secara berjamaah dengan umat Muslim lainnya, untuk menandai berakhirnya Bulan Ramadan dan merayakan Idul Fitri.

"Saya akan mendurhakai Nabi Muhammad dan ajaran Al-Quran, jika gagal melakukan salat Id di depan umum bersama dengan umat Islam lainnya. Tanpa salad Id, puasa selama 30 hari di Bulan Ramadan akan sia-sia. Pemerintah seharusnya mendorong umat Islam untuk berdoa bersama memohon rahmat dan perlindungan Allah, ketika orang-orang terinfeksi dan sedang sekarat karena Covid-19," ujar Muslim Issa Karimou.

Berbicara melalui aplikasi pengiriman pesan dari kediamannya, Mamadi Mahamat, pejabat pemerintah tertinggi di distrik kedua Yaoundé, mengatakan sangat terkejut bahwa banyak umat Muslim mengabaikan instruksi pemerintah yang melarang pelaksanaan salat Id berjamaah. 

Mamadi Mahamat mengatakan, dia telah meminta polisi untuk memastikan umat Islam tidak memiliki akses ke dua tempat doa umum utama di distrik kedua Yaoundé, setelah dia diberitahu bahwa ribuan orang telah menentang instruksinya untuk berdoa di rumah dan bersikeras mengadakan salat Id di lapangan terbuka atau tempat umum.

"Semua imam dan pemimpin Muslim di Yaoundé harus menghormati komitmen yang mereka ambil untuk hanya berdoa di tiga dari 42 masjid dan menjaga jarak sosial," ujar Mamadi Mahamat.

Njimgou Ibrahima, juru bicara Muslim di Yaoundé mengatakan akan lebih bijaksana bagi umat Muslim untuk melindungi diri mereka dari virus corona, dan menjadi sehat untuk mempromosikan agama mereka dan berguna dalam membangun komunitas mereka.

"Saya meminta semua umat Muslim untuk meninggalkan ruang publik dan berdoa di rumah atau di masjid yang ditentukan. Kita harus menghormati instruksi pemerintah bahwa orang-orang harus setidaknya menjaga jarak setidaknya dua meter," ujar Njimgou Ibrahima.

Pemerintah Kamerun telah melakukan pengetatan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bulan lalu pada awal Ramadan, 13 masjid disegel, dan polisi menggunakan kekuatan untuk membubarkan umat Muslim yang berdoa di masjid karena melanggar perintah pemerintah untuk tidak berkumpul dalam kelompok lebih dari 50 dan berjarak sekitar 2 meter, terkait pencegahan virus Covid-19.



Sumber: VoA, Suara Pembaruan