Jepang Akhiri Keadaan Darurat Covid-19

Jepang Akhiri Keadaan Darurat Covid-19
Dua orang pria bermasker berbelanja di sebuah supermarket di Tokyo, Jepang, 23 April 2020. (Foto: AFP)
Natasia Christy Wahyuni / YUD Senin, 25 Mei 2020 | 21:41 WIB

Tokyo, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe mengakhiri keadaan darurat virus corona (Covid-19) untuk mengakhiri pengekangan aktivitas ekonomi di Tokyo dan empat prefektur lainnya. Dalam konferensi pers hari Senin (25/5/2020), Abe mengatakan keadaan darurat yang berlaku sejak April 2020 berakhir lebih cepat dari jadwal untuk wilayah metropolitan Tokyo termasuk Chiba, Kanagawa, dan Saitama, serta Hokkaido di Jepang utara.

Baca juga: Bioskop di Jepang Kembali Dibuka pada Akhir Pekan

Dengan pencabutan pembatasan di bawah keadaan darurat, perekonomian Jepang yang dilanda resesi diharapkan akan pulih kembali, meskipun dalam kecepatan bertahap. Lima prefektur tersebut mencakup sepertiga produk domestik bruto (PDB) negara itu.

“Saya telah memutuskan untuk mengakhiri keadaan darurat di seluruh negeri. Hanya dalam hampir 1,5 bulan, kami bisa mengendalikan situasi (infeksi),” kata Abe.

Baca juga: Pekerja Tanpa Rumah di Jepang Terancam Tidur di Jalanan

Panel penasihat memberikan lampu hijau kepada pemerintah untuk mengakhiri keadaan darurat seelah mengevaluasi jumlah kasus terbaru selama beberapa pekan terakhir, ketersediaan sumber daya medis, dan kapasitas untuk pengujian virus dan pengawasan penyebaran virus corona.

Abe telah mempertimbangkan pentingnya menjaga infeksi baru tetap terkendali dengan kuat, sejalan dengan kebutuhan untuk meremajakan ekonomi. Abe menyerukan warga Jepang untuk mengubah gaya hidup mereka dengan memakai masker, mempertahankan jarak sosial, dan bekerja dari rumah, serta para pakar memperingatkan pelonggaran terlalu cepat di tengah resiko gelombang infeksi lainnya.

Di saat situasi infeksi telah stabil, modal politik Abe tampaknya berkuran karena PM mendapat kecaman atas penanganan krisis yang dinilai tidak memadai dan tidak bersentuhan dengan publik. Keadaan semakin pelik karena seorang jaksa agung jepang pekan lalu mengundurkan diri karena berjudi mahjong selama keadaan darurat.

Baca juga: Kasus Corona Melonjak Tajam, Jepang Mulai Panik

Menteri Revitalisasi Ekonomi, Yasutoshi Nishimura, mengatakan pemerintah akan menetapkan masa transisi dan menilai situasi infeksi setiap tiga minggu. Artinya, permintaan agar orang-orang tetap di rumah dan menghindari pertemuan besar hanya bisa dilonggarkan secara bertahap. Orang-orang akan diminta tidak melintasi perbatasan antar prefektur sampai akhir Mei 2020. 



Sumber: Kyodo News