Dokter Penguji Vaksin Covid-19 di Moderna Sebut Injeksi Siap 2020

Dokter Penguji Vaksin Covid-19 di Moderna Sebut Injeksi Siap 2020
Kantor pusat perusahaan bioteknologi Moderna di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 26 Mei 2020 | 20:12 WIB

Washington, Beritasatu.com - Seorang dokter yang terlibat dalam studi vaksin virus corona (Covid-19) di Amerika Serikat (AS) berharap suntikan vaksin akan tersedia pada tahun ini.

Dr. Carlos del Rio, seorang profesor kedokteran Universitas Emory, mengatakan kepada CNBC pada Jumat (22/5/2020) bahwa vaksin Covid-19 siap dalam beberapa bentuk untuk didistribusi akhir tahun 2020. Dia mengungkapkan bahwa itu adalah waktu yang sangat cepat.

"Saya optimistis," kata del Rio pada "Power Lunch,". "Kami berkembang dengan kecepatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya."

Atlanta's Emory University adalah salah satu situs yang menguji kandidat vaksin Covid-19 dari Moderna, yang pada bulan Maret memulai uji coba klinis pertama AS.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Kemungkinan Siap Awal 2021, Ini Pemicunya

Dr. Anthony Fauci, ahli kesehatan di tim respons corona Gedung Putih, dalam wawancara Jumat pagi mengatakan proses pengembangan vaksin diproyeksikan memakan waktu 12 hingga 18 bulan.

"Berusaha berpikir bahwa, setahun setelah virus teridentifikasi, kami akan memiliki vaksin yang siap untuk digunakan dan siap didistribusikan besar-besaran," kata del Rio.

"Saya harus berhati-hati dan berharap itu terjadi. Saya ingin memastikan kita melakukannya dengan cara benar."

Dalam 65 hari, para peneliti telah mengisolasi dan mengidentifikasi virus dan mulai menguji vaksin potensial pada manusia. "Itu belum pernah terjadi sebelumnya," kata del Rio.

Baca juga: CEO Moderna Tepis Keragu-raguan akan Uji Vaksin Covid-19

Studi Moderna dilakukan di Unit Evaluasi Vaksin dan Perawatan Emory dan Institut Penelitian Kesehatan Kaiser Permanente Washington di Seattle.

Walaupun biasanya diperlukan satu dekade penelitian untuk mengembangkan vaksin, namun para ahli berusaha merespons dengan cepat terhadap virus corona, yang telah menginfeksi 5 juta orang dan 336.000 kematian di seluruh dunia menurut data Universitas Johns Hopkins.

Moderna, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Massachusetts bekerja dengan National Institutes of Health untuk mempercepat kandidat vaksin. Moderna merilis data studi fase satu yang menggembirakan - dengan 45 relawan awal pekan ini- sehingga menggairahkan investor global.

Moderna mengharapkan memulai uji coba fase dua, dengan memberikan dosis kepada 600 peserta, dan segera memasuki fase tiga pada Juli. Perusahaan berencana memiliki vaksin yang siap dipasarkan pada awal 2021.

Vaksin merupakan salah satu obat utama untuk membantu agar orang bisa keluar rumah tanpa khawatir tertular penyakit mematikan dan pada gilirannya membuka kembali perekonomian AS dan global kembali berjalan lancar.

Del Rio mengatakan seluruh populasi tidak perlu mendapatkan vaksin agar efektif dalam mengendalikan wabah di masa depan. "Jika Anda mendapatkan 40 presen orang divaksinasi dan 20 persen menderita penyakit, berati Anda akan mendapatkan kekebalan kawanan (herd immunity)," katanya.

"Jadi ke situlah kita perlu pergi. Kita tidak perlu memberi vaksinassi 100 persen orang. Kekebalan kawanan akan membantu kita," ujarnya.



Sumber: CNBC