86 Juta Anak Terancam Miskin Akibat Dampak Covid-19

86 Juta Anak Terancam Miskin Akibat Dampak Covid-19
Arina (kanan) menggendong adiknya, Daniil (7 bulan), berfoto bersama dua saudarinya, Yana (kiri) dan Lyubov, di ruang tamu rumah sewaan mereka, di Nur-Sultan, Kazakhstan. UNICEF memperkirakan 86 juta anak terancam hidup dalam kemiskinan akibat pandemi Covid-19. (Foto: Dok SP)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 29 Mei 2020 | 13:18 WIB

London, Beritasatu.com - Keruntuhan ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19) mengancam lebih dari 86 juta anak di dunia hidup dalam kemiskinan sampai akhir 2020. Demikian kajian Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF), dan LSM Save The Children yang berbasis di London, Inggris.

Kajian yang dipublikasikan pada Kamis (28/5/2020) itu, memperkirakan anak-anak yang jatuh ke dalam jerat kemiskinan meningkat sebesar 15%, disebabkan oleh dampak Covid-19 yang menyebabkan orang tua mereka kehilangan lapangan pekerjaan atau sumber penghasilan.

“Pandemi virus corona telah memicu krisis sosial ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menguras sumber daya keluarga di seluruh dunia,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, dikutip dari siaran pers UNICEF, Kamis (28/5/2020).

Menurut dia, tanpa tindakan segera untuk melindungi keluarga dari kesulitan keuangan akibat pandemi, maka jumlah anak yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional di negara-negara berpendapatan rendah-menengah sampai akhir tahun bisa mencapai 672 juta.

“Hampir dua per tiga anak-anak itu tinggal di kawasan sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Bahkan negara-negara di seluruh Eropa dan Asia Tengah, bisa melihat peningkatan anak-anak yang hidup miskin secara signifikan, yaitu lebih dari 44%. Sedangkan, Amerika Latin dan Karibia bisa mengalami peningkatan 22%,” ujar Henrietta Fore.

Total kasus infeksi Covid-19 di seluruh dunia per Rabu, sudah lebih dari 5,7 juta orang dan angka kematian 356.042 orang. Tak hanya menyebabkan kematian, Covid-19 juga berdampak pada pemutusan hubungan kerja yang meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan di berbagai negara.

Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara yang terdampak parah, baik dari sisi korban jiwa maupun korban ekonomi. Data Worldometers mencatat hingga Kamis (28/5/2020), total kasus Covid-19 di AS mencapai 1.768.461 orang, di mana 103.330 diantaranya meninggal dunia. Tak hanya mengakibatkan korban jiwa, Covid-19 di AS juga meningkatkan angka pengangguran baru hingga mencapai lebih dari 39 juta.

“Tanpa tindakan bersama, keluarga-keluarga yang nyaris tidak bisa akan terdorong ke dalam kemiskinan, dan keluarga-keluarga termiskin bisa menghadapi tingkat kekurangan yang belum terlihat selama beberapa dekade,” kata Henrietta Fore.

UNICEF dan Save The Children menyatakan dampak krisis ekonomi global bisa dua kali lipat akibat pandemi dan kebijakan penahanan. Kehilangan pendapatan secara mendadak akan membuat keluarga kurang mampu membayar kebutuhan dasar, termasuk makanan dan air minum.

Semakin kecil juga kemungkinan anak-anak itu mendapatkan perawatan kesehatan atau pendidikan, serta lebih beresiko terhadap pernikahan anak, kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan.

Bagi keluarga termiskin, kurangnya akses kepada layanan perawatan sosial atau tindakan kompensasi akan membatasi kemampuan mereka untuk mematuhi tindakan pencegahan dan menjaga jarak fisik sehingga paparan infeksi otomatis meningkat.

CEO Internasional Save the Children, Inger Ashing, menegaskan laporan itu harus menjadi alarm bagi dunia. Anak-anak sangat rentan terhadap kelaparan dan kekurangan gizi sekalipun dalam periode singkat. “Kemiskinan tidak bisa dihindari untuk anak-anak,” kata Ashing.

Sebelum pandemi, dua per tiga anak di seluruh dunia tidak memiliki akses kepada perlindungan sosial sehingga mustahil keluarga mereka bisa bertahan dengan guncangan keuangan terbaru dan melanjutkan lingkaran kemiskinan. Di Afrika, hanya 16 persen anak-anak yang tercakup perlindungan sosial.



Sumber: AFP, The Guardian, Suara Pembaruan