Bagaimana Vietnam, Populasi 97 Juta, Bisa Nol Korban Jiwa Covid-19?

Bagaimana Vietnam, Populasi 97 Juta, Bisa Nol Korban Jiwa Covid-19?
Warga Vietnam sudah bisa menikmati pertandingan sepakbola di stadion di Provinsi Hung Yen pada 25 Mei 2020. Sebelumnya liga sepakbola dihentikan karena wabah Covid-19. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Minggu, 31 Mei 2020 | 15:02 WIB

Beritasatu.com - Beberapa wilayah di Asia sukses mengendalikan wabah virus corona, dan kebanyakan orang melihat ke Korea Selatan, Taiwan, atau Hong Kong.

Namun, ada negara yang paling sukses menangani wabah ini dan justru dipandang sebelah mata -- Vietnam. Negara ini berpenduduk 97 juta orang, lebih besar dari Malaysia, dan sampai sejauh ini belum ada korban meninggal akibat Covid-19.

Sampai hari Sabtu (30/5/2020) kemarin, Vietnam juga baru mencatat 328 kasus terkonfirmasi, meskipun negara itu punya perbatasan darat yang panjang dengan Tiongkok yang menjadi asal mula pandemik dan menerima kunjungan jutaan warga Tiongkok tiap tahunnya.

Fakta ini sangat mengesankan karena Vietnam juga masih kategori negara low-middle income dengan sistem layanan kesehatan yang relatif tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Rasio jumlah dokter hanya 8 berbanding 10.000 orang.

Setelah mengisolasi diri selama tiga pekan, Vietnam mulai mencabut aturan pembatasan sosial pada akhir April. Dan selama lebih dari 40 hari berikutnya tidak ada kasus baru yang terdeteksi. Sekolah dan tempat usaha sudah dibuka lagi, dan hidup di sana sudah kembali ke normal secara bertahap.

Bukan Bohong
Bagi orang yang skeptis, data ini terlihat sangat meragukan.

Namun Guy Thwaites, dokter penyakit infeksi dari Oxford University yang bertugas di rumah sakit pemerintah khusus pasien Covid-19, membenarkan fakta yang ada di lapangan.

"Saya berkunjung ke bangsal rumah sakit setiap hari, saya tahu kalau ada kasus-kasus baru, dan saya tahu belum ada korban meninggal," kata Thwaites, yang juga kepala riset Oxford University di Ho Chi Minh City.

"Jika ada penularan yang tidak dilaporkan atau tidak terkendali di masyarakat, maka kami akan melihat kasusnya di rumah sakit ini, orang-orang datang dengan infeksi di dada dan belum ada diagnosa -- dan itu tidak pernah terjadi," jelasnya.

Ini Kuncinya
Menurut para pakar kesehatan masyarakat, ada sejumlah faktor yang membuat Vietnam tidak terkena dampak parah Covid-19, yaitu kombinasi respon pemerintah yang cepat dan tegas untuk mencegah penyebarannya, penelusuran kontak secara agresif, karantina secepat mungkin, dan alur komunikasi masyarakat yang lancar.

Vietnam sudah bersiap menghadapi wabah virus corona sebelum kasus pertama terdeteksi. Saat itu, Tiongkok dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan belum bisa memastikan adanya penularan antar-manusia.

Namun, Vietnam tidak mau ambil risiko.

"Kami tidak sekedar menunggu panduan dari WHO. Kami menggunakan data yang dikumpulkan dari dalam dan luar [negeri] untuk mengambil keputusan lebih dini," kata Pham Quang Thai, wakil kepala Departemen Pengendalian Infeksi di Lembaga Nasional Epidemiologi dan Higienitas di Hanoi.

Kronologi
Pada awal Januari, prosedur pemeriksaan suhu badan sudah diterapkan bagi para penumpang yang tiba dari di bandara internasional Hanoi. Para pelancong yang mengalami demam langsung diisolasi dan dimonitor secara ketat, seperti diberitakan televisi lokal pada waktu itu.

Pertengahan Januari, Wakil Perdana Menteri Vu Duc Dam memerintahkan lembaga-lembaga pemerintah untuk mengambil “langkah drastis” dalam mencegah penyebaran penyakit ini di Vietnam, dan meningkatkan upaya karantina medis di pintu-pintu masuk perbatasan, bandara, dan pelabuhan.

Pada 23 Januari, Vietnam memastikan dua kasus virus corona yang pertama – seorang warga negara Tiongkok yang tinggal di Vietnam dan ayahnya yang datang dari Wuhan untuk menengok dia. Sehari berikutnya, langsung semua penerbangan dari dan ke Wuhan disetop oleh Vietnam.

Ketika negara itu merayakan Imlek, Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc mendeklarasi perang melawan virus corona.

"Bertempurlah melawan epidemik ini seperti berperang melawan musuh," ujarnya dalam pertemuan Partai Komunis Vietnam pada 27 Januari. Tiga hari berikutnya, dia membentuk komite khusus untuk mengendalikan wabah -- hari yang sama ketika WHO mengumumkan virus corona sebagai darurat kesehatan masyarakat yang harus menjadi perhatian internasional.

Baca juga: Apa Bedanya Epidemik dengan Pandemik?

Pada 1 Februari, Vietnam mendeklarasikan epidemik nasional , meskipun baru ada enam kasus positif di negara tersebut. Semua penerbangan antara Vietnam dan Tiongkok dihentikan, diikuti penghentian layanan visa untuk warga negara Tiongkok sehari kemudian.

Sepanjang Februari, pembatasan perjalanan, karantina bagi yang baru datang dari luar negeri, dan penghentian visa diperluas seiring penyebaran virus corona ke negara-negara lain seperti Korsel, Iran, dan Italia. Vietnam akhirnya melarang masuk semua warga negara asing pada akhir Maret.

Lockdown Tanpa Keraguan
Vietnam juga cepat dan proaktif dalam menerapkan karantina wilayah atau lockdown. Pada 12 Februari, sebuah desa dengan penduduk 10.000 orang di utara Hanoi ditutup selama 20 hari karena ada tujuh kasus infeksi virus corona.

Catat, itu merupakan tindakan lockdown skala besar pertama yang diterapkan di luar Tiongkok. Sekolah dan perguruan tinggi yang awalnya akan dibuka pada Februari setelah Imlek diputuskan untuk terus ditutup, dan baru dibuka lagi awal bulan ini.

Dr. Guy Thwaites, pakar dari Oxford, mengatakan kecepatan Vietnam dalam merespons wabah ini menjadi kunci kesuksesan.

"Tindakan mereka di akhir Januari dan awal Februari mendahului banyak negara lain. Dan itu sangat membantu mereka untuk tetap memegang kendali," jelasnya.

Penelusuran Kontak
Upaya keras Vietnam bisa menjaga penyebaran virus hingga hanya 16 kasus sampai 13 Februari dan tidak ada kasus baru sampai empat pekan kemudian.

Pertengahan Maret, gelombang kedua penularan melanda Vietnam, dipicu oleh warganya yang baru pulang dari luar negeri.

Staf Vietnam Airlines menyemprot interior pesawat dengan disinfektan di Bandara Internasional Noi Bai, Hanoi, 4 Feb. 2020. (AFP)

Otoritas setempat kemudian melakukan penelusuran kontak secara mendalam dan mewajibkan mereka yang pernah berhubungan dengan kasus-kasus positif untuk mengkarantina diri selama dua pekan.

"Kami punya sistem yang sangat kuat, terdiri dari 63 CDC (pusat pengendalian penyakit) tingkat provinsi, lebih dari 700 CDC tingkat distrik, dan lebih dari 11.000 pusat kesehatan masyarakat. Mereka semua berperan dalam melakukan penelusuran kontak," kata Dr. Pham dari Lembaga Nasional Epidemiologi dan Higienitas.

Seorang pasien yang positif mengidap virus corona wajib menyampaikan ke otoritas kesehatan siapa saja yang pernah ditemuinya dalam 14 hari terakhir.

Pengumuman tentang kapan dan di mana keberadaan seorang pasien disampaikan lewat suratkabar dan televisi, dan menyerukan orang lain yang pernah berada di tempat yang sama untuk menjalani tes, kata Pham.

Seorang perempuan menerima masker gratis dari para sukarelawan di Hanoi pada 6 Februari 2020. (AFP)

Ketika Rumah Sakit When Bach Mai di Hanoi menjadi zona merah karena didatangi lusinan pasien virus corona pada Maret, otoritas setempat mengkarantina fasilitas tersebut dan melakukan penelusuran pada hampir 100.000 orang yang pernah ada kaitan dengan rumah sakit tersebut, termasuk petugas medis, pasien, pengunjung, dan kerabat dekat mereka, kata Pham.

"Dengan penelusuran kontak ini, kami bisa menemukan nyaris siapa saja [yang terkait rumah sakit], dan meminta mereka untuk tetap di rumah atau melakukan tes gratis di puskesmas kalau mengalami gejala," imbuhnya.

Sekitar 15.000 orang yang ada kaitan dengan rumah sakit tersebut akhirnya dites, termasuk 1.000 tenaga medis.

Penelusuran kontak di Vietnam dilakukan dengan sangat serius sehingga yang dikejar bukan hanya mereka yang berhubungan langsung dengan kasus positif, tetapi juga hubungan tidak langsung.

Menurut Dr Thwaites, hal inilah yang membedakan Vietnam dengan banyak negara lain.

Orang yang pernah kontak langsung dengan kasus positif dikarantina di pusat kesehatan, hotel, atau barak militer. Kontak tidak langsung cukup mengisolasi diri di rumah.

Menurut sebuah riset, sampai 1 Mei sudah 70.000 warga Vietnam yang menjalani karantina di fasilitas pemerintah, dan sekitar 140.000 orang mengisolasi diri di rumah atau di hotel.

Riset itu juga menunjukkan bahwa 43 persen dari 270 pasien Covid-19 pertama di Vietnam tidak memiliki gejala, bukti betapa ketatnya upaya penelusuran kontak dan karantina di negara tersebut.

Jika otoritas tidak secara proaktif mengejar orang-orang tanpa gejala ini, risiko penularan dan penyebaran penyakit akan terjadi diam-diam sampai beberapa hari sebelum akhirnya bisa terdeteksi.

Komunikasi Publik dan Propaganda
Sejak awal, pemerintah Vietnam telah secara aktif berkomunikasi dengan masyarakat terkait wabah ini.

Situs internet, nomor darurat, dan aplikasi ponsel dibuat khusus untuk memberi informasi ke masyarakat tentang kondisi terbaru dan petunjuk kesehatan yang harus dipatuhi. Kementerian Kesehatan juga secara rutin mengirim pesan ke masyarakat melalui SMS.

Pham mengatakan di hari sibuk, nomor darurat yang ada bisa menerima 20.000 panggilan, belum termasuk ratusan nomor yang dibuat sendiri oleh pemerintah provinsi atau distrik.

Aparat negara yang bertugas dalam propaganda dikerahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pelantang suara, poster, pers, dan media sosial.

Pada akhir Februari, Kementerian Kesehatan merilis video musik dari lagu populer setempat yang sedang tenar, dimodifikasi untuk mengajarkan masyarakat bagaimana mencuci tangan dengan benar dan hal-hal lain terkait higienitas.

“Lagu cuci tangan” ini segera viral, ditonton lebih dari 48 juta kali di Youtube.

Sikap Hormat
Thwaites mengatakan pengalaman Vietnam dalam menangani wabah sebelumnya seperti SARS (2002- 2003) dan flu burung juga menjadi faktor penting dalam wabah kali ini.

"Populasi di sini lebih punya ‘sikap hormat’ pada penyakit infeksi dibandingkan mereka di negara-negara lebih maju yang jarang dilanda wabah, seperti Eropa, Inggris, atau Amerika Serikat,” kata Pham.

"Negara kami paham bahwa hal-hal seperti ini perlu ditangani secara serius dan [masyarakat] patuh pada petunjuk pemerintah tentang bagaimana mencegah penyebaran infeksi."



Sumber: CNN