Demo Meluas ke 100 Titik, 12 Negara Bagian Turunkan Garda Nasional

Demo Meluas ke 100 Titik, 12 Negara Bagian Turunkan Garda Nasional
Petugas kepolisian berlutut saat demonstrasi di Coral Gables, Florida AS pada 30 Mei 2020 menyusul kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata yang meninggal saat ditangkap dan dijepit ke tanah oleh seorang petugas kepolisian Minneapolis. (Foto: AFP / Eva Marie Uzcategui )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 1 Juni 2020 | 06:03 WIB

Washington, Beritasatu.com - Sebanyak ratusan orang ditangkap pada akhir pekan ketika para pengunjuk rasa dan polisi bentrok di hampir seluruh kota di Amerika Serikat (AS) setelah kematian George Floyd, pria kulit hitam tak bersenjata, oleh polisi Minneapolis. Menurut NBC News, aksi unjuk rasa meluas di 100 titik yang melibatkan puluhan ribu pemrotes.

Wali Kota kota-kota besar di AS memberlakukan jam malam dari Los Angeles hingga Philadelphia dan Atlanta. Aksi protes di beberapa kota telah berubah menjadi kekerasan menyusul meningkatnya ketegangan. Menyikapi hal itu, setidaknya 12 negara bagian, serta Washington DC, menurunkan pasukan Garda Nasional dalam upaya menjaga perdamaian.

Pada Jumat (29/5/2020), Derek Chauvin petugas kepolisian yang menekan leher Floyd ke aspal dengan lututnya ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan. Sejumlah video yang beredar menunjukkan Floyd masih hidup ketika leher dan badannya ditindih dengan lutut oleh Chauvin sampai kemudian tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian dia dinyatakan meninggal oleh rumah sakit. Empat polisi dipecat karena skandal itu, dimana Chauvin didakwa pembunuhan.

Baca juga: Wali Kota ini Kirim Pesan “FU” untuk Donald Trump

Keresahan sosial atas kebrutalan polisi terjadi di tengah pandemi Covid-19 yang telah menewaskan lebih 100.000 warga AS dan menyebabkan pengangguran terburuk sejak Depresi Hebat.

Komunitas kulit hitam sangat terpukul oleh Covid-19. Hampir 23 persen dari total kematian akibat pandemi adalah orang Afrika-Amerika meskipun orang kulit hitam hanya sekitar 13 persen dari populasi AS, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

Baca juga: Aksi Pelemparan kepada Polisi di Minneapolis Berlanjut

Sementara sejumlah kota dan pemerintah daerah di AS memberlakukan jam malam setidaknya di 25 kota. Negara bagian Virginia menyatakan keadaan darurat dan memperpanjang jam malam di ibu kota Richmond hingga Rabu (3/6/2020). Gubernur Virginia Ralph Northam menyatakan keadaan darurat dan mengabulkan permintaan wali kota Richmond untuk memperpanjang jam malam di kota itu.

Deklarasi ini memungkinkan Virginia memobilisasi sumber daya untuk membantu otoritas lokal, termasuk Garda Nasional. Jam malam di Richmond mulai berlaku antara 20.00 dampai 6 pagi. Semua warga harus tetap di rumah. Mereka hanya bisa keluar untuk layanan darurat, tempat kerja, atau tempat ibadah.

Berikut adalah sebagian daftar kota-kota yang telah mengumumkan langkah-langkah tersebut. Atlanta mulai 21.00 sampai matahari terbit, Chicago 21.00 sampai 6 pagi, sejumlah area Dallas 19.00 sampai 6 pagi, Los Angeles 20.00 hingga 5.30 pagi, Miami 20.00 sampai 6 pagi.

Selanjutnya Minneapolis 20.00 sampai 6 pagi, sejumlah area di Nashville 20.00 hingga 6 pagi, Philadelphia 20.00 sampai 6 pagi, San Francisco 20.00 sampai 6 pagi dan Seattle 17.00 sampai jam 5 pagi.

Sementara beberapa petugas polisi di sejumlah wilayah seperti Coral Gables, Florida, dan Santa Cruz, California, bergabung dengan para pengunjuk rasa dan berlutut untuk menunjukkan solidaritas guna menentang kebrutalan polisi.

Jason Kander, politisi Demokrat yang sebelumnya mencalonkan diri untuk kursi Senat di Missouri, men-tweet foto dua perwira di Kansas City memegang tanda bertuliskan "END Brutality Police."



Sumber: CNBC