Putri Wali Kota New York Ditangkap karena Unjuk Rasa

Putri Wali Kota New York Ditangkap karena Unjuk Rasa
Chiara de Blasio saat wisuda di kampus bersama kakaknya di 2019. (Foto: New York Post / Douglas Healey)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 1 Juni 2020 | 11:17 WIB

New York, Beritasatu.com - Anak perempuan Wali New York City (NYC), Bill de Blasio ditangkap dalam unjuk rasa di Manhattan pada Sabtu malam (30/5/2020) merespons kematian George Floyd, pria kulit hitam tak bersenjata, oleh polisi Minneapolis. Demikian diungkapkan sumber-sumber penegak hukum kepada The Post, Minggu (31/5/2020).

Chiara de Blasio (25) ditahan sekitar pukul 22.30 waktu setempat setelah polisi menyatakan melanggar hukum di 12th Street dan Broadway di Lower Manhattan.

Sumber itu menyebutkan, Chiara de Blasio diduga telah memblokir lalu lintas di Broadway dan ditangkap setelah menolak untuk pindah. “Itu adalah hotspot, mobil polisi terbakar di sana, orang-orang melempar dan berteriak, berkelahi dengan polisi. Ada ribuan orang di sana saat itu,” kata sumber yang mengetahui peristiwa tersebut.

Baca juga: Demo Meluas ke 100 Titik, 12 Negara Bagian Turunkan Garda Nasional

Chiara yang lulus dari Santa Clara University pada 2016 memberi tahu kepada petugas kepolisan bahwa rumahnya beralamat di East End Avenue - atau dikenal sebagai Gracie Mansion, rumah Upper East Side wali kota-. Tapi Chiara de Blasio tidak memberi tahu bahwa dia adalah putri wali kota.

Penangkapan itu terjadi sekitar satu jam sebelum Wali Kota New York meminta para pemrotes untuk pulang. "Kami menghargai dan menghormati semua protes damai, tetapi sekarang saatnya untuk pulang," kata de Blasio pada konferensi pers pukul 22.30 di markas Manajemen Darurat NYC di Downtown Brooklyn.

“Jika kamu pulang dengan damai, aspirasi kamu didengar dan perubahan akan terjadi di kota. Saya tidak ragu tentang itu. Sudah waktunya untuk pulang sehingga kita semua bisa bergerak maju."

Baca juga: 60 Anggota Secret Service Terluka Imbas Kerusuhan, Belasan Dilarikan ke RS

Pada Minggu, Wali Kota New York City menyatakan bahwa sejumlah pendemo bertindak anarkistis dan memiliki agenda terselubung kekerasan. “Jumlahnya sedikit. Ini terorganisir dengan baik, meskipun banyak dari orang-orang yang terkait dengan gerakan anarkistis,” kata de Blasio dalam jumpa pers Balai Kota mengenai oportunis luar yang ia tuduh atas demonstrasi yang kini berubah menjadi kekacauan.

“Beberapa datang dari luar kota. Beberapa dari dalam kota. Beberapa berasal dari lingkungan tempat protes berlangsung. Ada yang tidak,” lanjutnya, tanpa merinci dari mana para penyelundup itu berasal.

Sementaara Balai Kota tidak mengomentari penangkapan Chiara de Blasio.

Sebanyak ratusan orang ditangkap pada akhir pekan ketika para pengunjuk rasa dan polisi bentrok di hampir seluruh kota di Amerika Serikat (AS) setelah kematian George Floyd, pria kulit hitam tak bersenjata, oleh polisi Minneapolis. Menurut NBC News, aksi unjuk rasa meluas di 100 titik yang melibatkan puluhan ribu pemrotes.

Wali Kota kota-kota besar di AS memberlakukan jam malam dari Los Angeles hingga Philadelphia dan Atlanta. Aksi protes di beberapa kota telah berubah menjadi kekerasan menyusul meningkatnya ketegangan. Menyikapi hal itu, setidaknya 12 negara bagian, serta Washington DC, menurunkan pasukan Garda Nasional dalam upaya menjaga perdamaian.



Sumber: New York Post