Usai "Dicerai" Trump, WHO Harap Kolaborasi dengan AS Berlanjut

Usai
Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto: afp / afp)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 2 Juni 2020 | 06:09 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (1/6/2020) berharap kemitraan lembaganya dengan Amerika Serikat (AS) dapat berlanjut. Harapan itu diungkapkan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa AS memutuskan hubungan dengan organisasi PBB bidang kesehatan tersebut.

“Dunia telah lama mendapat manfaat dari keterlibatan kolaboratif yang kuat dengan pemerintah dan rakyat AS,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di kantor pusatnya, Jenewa, Swiss.

Menurut Tedros, kontribusi Pemerintah AS dan kemurahan hati rakyatnya selama beberapa dekade sangat luar biasa. "Harapan WHO kolaborasi ini dapat terus berlanjut," tambahnya.

Baca juga: Amerika Putus Hubungan dengan WHO

Pada Jumat, Trump memutus hubungan dengan WHO karena lembaga kesehatan dunia itu telah gagal melakukan reformasi.

Bulan lalu, Trump mengancam akan secara permanen memotong dana AS untuk WHO. Dalam sebuah surat, Trump mengatakan jika WHO tidak berkomitmen melakukan perbaikan substantif dalam 30 hari ke depan, AS akan membekukan dananya pada WHO.

Tidak disebutkan mekanisme apa yang ingin digunakan Trump untuk menghentikan pendanaan WHO, yang sebagian besar diambil oleh Kongres. Presiden biasanya tidak memiliki wewenang untuk mengarahkan kembali pendanaan kongres secara sepihak.

Ketika ditanya pada Senin bagaimana AS dapat melakukan penarikan, Tedros menolak untuk menjawab.

Trump telah berulang kali mengkritik respons WHO terhadap virus corona (Covid-19) yang telah memukul AS menjadi negara yang terdampak paling buruk di dunia. Trump mengklaim bahwa WHO Tiongkok-sentris.

Baca juga: Uni Eropa Rayu Trump Rajut Kembali Hubungan dengan WHO

WHO menyatakan Covid-19 sebagai darurat kesehatan global pada 30 Januari 2020 ketika hanya ada 82 kasus di luar Tiongok dan nol kematian, Tedros mengatakan pada 1 Mei. "Artinya, dunia punya cukup waktu untuk melakukan intervensi," kata Tedros.

WHO juga telah membela Tiongkok dengan mengatakan respons negara itu terhadap Covid-19 meningkat pada Februari. WHO mulai membunyikan alarm wabah Covid-19 di Tiongkok pada pertengahan Januari.

Pada 11 Maret, para pejabat WHO menyatakan wabah itu sebagai pandemi, ketika ada 121.000 kasus global. Virus sekarang telah menginfeksi lebih dari 6,1 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan sedikitnya 372.479, menurut data Universitas Johns Hopkins.



Sumber: CNBC